Tuesday, 22 November 2016

Suap-suap Manja di Morning Glory Coffee Bandung




Akhir pekan adalah saatnya cari makan di luar. Di Bandung biasanya perlu perjuangan. Apalagi jika yang dituju adalah tempat makan favorit di tengah kota.Sebab kemacetan di hari libur akan terjadi di mana-mana.

Begitu pula akhir pekan kemarin. Perjalanannya saja untuk bisa sampai ke tengah kota bisa lebih dari satu jam. Ketimbang mengalami macet lebih parah akhirnya, saya membelokkan mobil ke Jalan Anggrek menuju Taman Cempaka alias Taman Foto Bandung. Di sana  terlihat tempat makan yang asyik bernama Morning Glory Coffee. Di tempat orang ngopi begini, biasanya suasananya justru menyenangkan. Dan benar saja!

Saya ditemani isteri dan anak masuk ke dalam sebuah ruangan yang luas semi terbuka. Seolah kami masuk ke sebuah restoran kelas menengah di Eropa. Interiornya sangat instagramable banget dan atmosfirnya cocok untuk anak muda kongkow.



Ada beraneka jenis tempat duduk. Kami memilih duduk di sofa ketimbang kayu. Agar lebih terasa di rumah. Lalu kami pun memesan. Isteri saya langsung memesan Padthai yang tak lain kwetiaw ayam. Saya meemsan tuom yam sayur dan anak saya memesan  pasta kesukaannya.


 




Tak lupa saya memesan menu tradisional tempe mendoan sebagai penebus rasa berdosa karena memesan menu masakan negeri lain. Hehehehe.  Begitu pula minumannya. Karena saya diet gula, cukup minum teh hitam. Isteri saya memesan lime dingin. Sedangkan anak saya lemon tea. Sebenarnya saya ingin sekali mencoba varian kopi di sini. Tapi karena lambung saya sedang tidak enak, saya abaikan.

Tidak terlalu lama menunggu pesanan datang. Apalagi kami sambil ngobrol akrab keluarga. Yang pertama datang adalah minuman dan teh mendoan. Cukup cerdik untuk mengganjal perut. Apalagi kami terbilang terlambat untuk makan siang lantaran terkena macet.

Tempenya lebar dan gurih. Teknik menggorengnya tepat sehingga bentuk mendoannya terasa. Bukan tempe goreng yang renyah. Tanpa kecap pun saya masih bisa menikmatinya. Walaupun saya akan lebih senang jika disediakan sambal. Ups! Ingat lambung.


Lalu pesanan saya hadir di atas meja. Aromanya langsung membuat ujung bibir saya basah. Buru-buru saya mencicipi kuahnya. Dan? Segar sekali terasa. Apalagi sayurannya juga masih terasa segar. Sayangnya udang yang disertakan bukan udang besar. Mungkin akan lebih segar lagi. Hehehe. tapi saya sudah merasa puas dengan tom yam sayuran ini. Ludes sampai tak bersisanya airnya. Hanya rawit merah yang tidak saya habiskan.


Melihat padthai pesanan isteri saya sempat tergiur. Soalnya aneh juga dengan makanan ini. Baru pertama melihat. Pikiran saya bahwa nanti akan didominasi kwe tiaw ternyata keliru. Malah togenya yang banyak. Saya pun minta encicipi kepada isteri saya. Sperti biasa, isteri saya menyuapi manja penuh kasih ke mulut saya. Rasanya ternyata enak. Mungkin bisa jadi alternatif menu kalo datang ke sini lagi.



Untuk ursan pasta, saya kurang berani mencicipi karena keju agak saya hindari. Kata anak saya rasanya enak seperti pizza. Nah lho? Mungkin karena jenis keju dan sausnya. Saya sendiri suka bagian daging cincangnya yang disertai potongan wortel. Saya pun mnta disuapi anak saya, tapi dia menolak. Jadi saya serobot sendiri. dan rasanya? Mungkin agak manis buat saya lidah saya yang jarang menyentuh gula lagi. Tapi anak-anak pasti senang dengan yang agak manis seperti ini. Kalo pastanya sih memang enak karena kejunya. 



Makan di sini agak mirip di rumah makan padang. Soalnya begitu makanan di  piring habis, langsung diangkat. Kalau kata orang dagang, silakan pesan yang lain. Jangan lama-lama ngobrol di tempat ini. Tapi mau pesan apa ya? Perut langsung kenyang karena semua makanan ternyata porsinya lumayan banyak.

Akhirnya kami  meninggalkan Morning Glory dan mampir sebentar ke Taman Foto di seberangnya untuk foto-foto manis.. Cekrek!

0 comments:

Post a Comment