Monday, 21 November 2016

Digoyang Gempa di Museum Geologi Bandung

 


Saat asik-asik mencari tulang rusuk untuk teman saya yang masih jomblo di Museum Geologi, saya merasakan getaran aneh. Ketika saya tengok ternyata ada gempa. Meskipun gempa lokal. Tapi bisa membuat satu keluarga bergoyang-goyang seru seperti sebuah geolan kompak.

Itulah yang saya alami beberapa waktu lalu ketika berkunjung ke  museum yang  terletak tidak jauh dari Gedung Sate. Persisnya saya sedang berada di sebuah gedung tua yang biasanya digosipkan berhantu di sisi Jalan Diponegoro No. 57.  Yang mungkin saja banyak hantu, karena saya tidak bisa melihat. Tapi di sini banyak tulang belulang buatan untuk menguatkan koleksinya yang kebanyakan bercerita zaman prasejarah.

Takut? Jangan. Datang saja ke sini karena untuk mencapainya relatif, baik menggunakan kendaraan pribadi roda empat atau dua ataupun menaiki kendaraan umum (Bis/Angkot) yang melewati kawasan ini relatif banyak. Ada jurusan Riung Bandung-Dago, Cicaheum - Ledeng, Cicaheum, Ciwastra, dan lain-lain. Lagian sekarang bayak taksi dan ojek on-line, jadi nggak ada alasan bilang susah kendaraan.





Tapi sebelum ke sana, sebaiknya  perlu tahu juga dong jika museum ini dibangun oleh kuli bangunan orang Indonesia pada tahun 1928 masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, arsitek WNALDA VAN SCHOLTWENBURG (huruf kapital biar ingat kalau keluar saat ulangan), dan diresmikan pada tanggal  16 Mei 1929 yang bertepatan dengan Kongres Ilmu Pengetahuan se-Pasifik IV di Bandung. Selain sebagai museum, difungsikan pula sebagai labolatorium geologi sampai sekarang.

Gedung Geologi memiliki gaya arsitektur art deco (kalau nggak mengerti coba tanya sama A'a Google)  dengan kesan horisontal yang  kuat. Terdiri dari dua lantai dengan arah hadap ke selatan (Jalan Surapati). Museum ini pada awalnya sangat sederhana sehingga dapat dikatakan menyerupai ruang dokumentasi koleksi (Dan saya dulu pernah ke sini memang sedehana banget).  

Tahun 1993 telah dilakukan renovasi karena semakin banyaknya koleksi yang dikumpulkan dari hasil penelitian geologi Indonesia yang dimulai sejak tahun 1850, sehingga diperlukan tempat khusus untuk menyimpan dan memamerkan kepada masyarakat luas.  

Nah, kalau sekarang ke sana, sudah jauh berubah. Museum ini jauh lebih modern dibandingkan museum-museum lainnya di Indonesia. Pokoknya tidak berasa sedang di museum, malah kayak di pameran Internasional begitu.



Selain berisi informasi tentang isi bumi, juga ada cerita tentang kehidupan pra sejarah yang bikin kita terkagum-kagum. Deretan informasi disajikan dengan berbagai bentuk. Ada diorama, gambar, replika, sampai film. Kerenlah pokoknya menghabiskan waktu di sini.

Untuk penggemar batu akik, mungkin akan bersinar matanya melihat pelbagai jenis batuan yang menawan. Jangan coba-coba nyongkel ya. Selain karena eblum tentu batunnya asli, banyak CCTV di dalam museum.


Bahkan ada simulator gempa. Jadi pengunjung yang seumur hidupnya nggak pernah mengalami gempa, bisa dibantu lewat alat ini. Dan sepertinya pengunjung rela antre di sini. Tidak hanya anak-anak yang menyukai museum ini, orangtua pun punya kesan positif dengan Museum geologi.

Di depan simulator terpampang layar yang menggambarkan situasi gempa di ruanga. Misalnya ada barang-barang yang jatuh. Nah, biar terkesan dramatik, jangan jaim kalo ada di simulatr ini. Cobalah bergaya alay dramatik, biar saat divideo ataupun di foto akan terlihat nyata.





Berapa harga tiketnya? Hanya Rp2.000. Dulu sih gratis. Tapi kalau gratis orang cenderung mengabaikan isinya. ah, masuk toilet saja sekarang bayar. Masa masuk museum yang sarat informasi mau gratis? Untuk bule cukup bayar Rp10.000, alias masih di bawah 1 dollar AS.


0 comments:

Post a Comment