Friday, 21 October 2016

Icip-icip Pepes Goreng ala Warung Ciendog di Bandung



Siang kemarin saya lupa bawa nasi merah untuk makan siang. Ceritanya memang saya sedang diet karbohidrat, jadi nasi putih saya tukar dengan nasi merah.Satu-satunya cara adalah mencari rumah makan yang menawarkan sajian kuliner Sunda, sebab biasanya tersedia nasi mereah atau hitam.

Dalam pencarian itu saya sampai di Jalan Embong yang merupakan jalan pintas menghubungkan Jalan Naripan dan Jalan Veteran di Bandung. Terlihat baliho besar nama tempat makan Warung Ciendog. Rasanya sih baru dengar.  Lalu terbaca aneka sajiannya pula di bagian luar, salah satunya adalah jenis kuliner Sunda. Jadi saya spekulasi saja masuk ke dalamnya.



Ruangannya sagat luas seperti masuk ke tempat futsal, dengan atap tinggi yang menjamin kita tidak bakal kegerahan di dalamnya. Penataan interiornya walaupun padu padan dengan gaya vintage tetapi tetap berkesan luas.



Saya langsung menuju display parasmanan dan memilih menu yang cocok buat saya. Ternyata saya ditawari nasi merah oleh pelayannya. Langsung saya samber untuk memilih nasi merah. Ketika saya menunjuk pepes ayam, pelayan menawarkan saya untuk menggoreng pepes tersebut.

Saya sempat bengong sebentar. Kalau memang mau digoreng, mengapa harus dipepes dulu? Tapi karena penasaran, akhirnya saya setuju untuk digoreng. Lalu saya memilih tahu, jamur renyah, oseng daun pepaya dan kangkung, serta sambal. Pengennya sih pakai kerupuk, tapi yang ada di display kalengnya saja.
Oh iya, nama sambelnya juga punya brand sendiri. Sambal Ceurik yang artinya sambal nangis. Mungkin saking pedasnya bisa bikin orang nangis. Saya nggak berani. Saya memilih yang lebih ringan saja.

Sembari menunggu saya bisa ngecharge handphone saya yang mulai lowbat. Buat saya, tempat makan kekinian adalah yang menyediakan banyak stop kontak atau terminal. Bukan wifi yang malah bikin senewen pengunjung karena biasanya malah nggak aktif.

Warung Ciendog memang bukan warung biasa. Di sini juga pengunjung bisa ngopi alias makan makanan ringan seperti roti rebus atau surabi ditemani kopi.


 


Pesanan saya datang tak lama kemudian, Saya takjub dengan ukuran gelas jumbo untuk teh tawar hangat yang saya pesan. Saya janji akan meminumnya sampai habis. Lalu saya mulai memerhatikan bentuk pepes oreng yang dihidangkan. bentuknya jadi cokelat kehitaman. Tekstur ayamnya terasa renyah, mengingatkan saya dengan bebek yang digoreng sampai remuk. Bahkan isian pepes lainnya seperti daun kemangi pun ikut digoreng. Unik juga.


Nasi merah disajikan dalam boboko kecil dengan porsi yang pas untuk diet saya. Tahunya juga digoreng dengan tingkat kematangan sesuai selera saya. Cuman jamur crispy-nya saja saya kurang bisa nikmati. Walaupun akhirnya dengan susah payah bisa saya habiskan. Nah untuk oseng daun pepaya dan kangkung, saya malah menyesal karena porsinya ternyata sedikit. Hahahaha. saya memang maruk kalau dengan dedaunan.

Intinya saya berhasil menandaskan hidangan yang saya pilih dengan nilai yang saya beri delapan untuk semua masakan. Juaranya oseng daun pepaya campur kangkung dan pepes gorengnya.


Jujur saja, saya tadinya berminat mengajak keluarga saya untuk sesekali makan di tempat ini. Tapi begitu tahu di bagian sudut kanan ada display minuman berakohol yang sangat kentara, saya mengurungkan niat tersebut. Seandainya saja botol-botol itu tidak ada di display mencolok atau dipisahkan ruangannya, saya mungkin tidak hanya akan mengajak keluarga. Tapi juga teman-teman lainnya.

2 comments:

  1. Wah saya suka pepes ala sunda nih, aroma daun pisangnya harum masuk ke pepesnya

    ReplyDelete