Tuesday, 7 June 2016

Benarkah Batu Kuya di Cikapundung ini Bisa Berpindah?




Jika menelusuri labirin di kawasan Lingga Wastu, Bandung, maka kita akan sampai di sisi Sungai Cikapundung yang membelah Bandung. Peamandangan sungai yang kurang nyaman untuk dinikmati, tapi sangat menarik untuk ditelusuri sejarahnya. Karena di sana terdapat pertemuan dua aliran sungai yang terbelah melintas Pulosari. Di sanalah pula kita bisa melihat 'Batu Kuya' yang misterius.

Sebelum membahas Batu Kuya, saya akan bercerita sedikit tentang Pulosari. Tahukah, bahwa tempat ini sesungguhnya seperti sebuah pulau kecil di tengah Sungai Cikapundung. Dulu, pulau kecil itu tak berpenghuni kecuali kebun milik seorang dari sisi Taman Sari/Balubur.

Air sungai Cikapundung yang mengalir deras pun berada di sisi timur dekat balubur. Smenetar sisi timur yang dekat Lingga wastu malah kecil terbendung, dan ceruknya lebih banyak dipakai untuk berkebum dan samah. Tapi bendungan itu akhirnya jebol sehingga air sungai malah deras mengalir ke  ke barat.

Aliran sungai pun kini mengalir ke bagian barat. Sementara aliran sebelah timur nyaris lebih menyerupai parit ketimbang sungai. Apalagi ketika Pulosari lambat laun berubah jadi perkampungan manusia yang terlihat kumuh. Hilang sudah keasrian yang tak mampu mencegah ledakan penduduk kota Bandung.

Kampung Pulosari dari Batu Kuya. (Foto: Benny)


Pada pertemuan aliran Cikapundung  barat dan timur, bentangan sungai makin lebar. Di dekat sanalah terdapat sebuah batu berukuran lebar sekitar diameter dua meter. Penduduk sekitar menyebutnya Batu Kuya.

Nama tersebut diberikan karena bentuk batu yang meyerupai kura-kura. Saat saya melihatnya memang yang tampak hanya betuk tempurung kura-kuranya. Di mana bagian kepalanya? Menurut Pak Kamal, warga Lingga Wastu, bagian kepalanya dipotong sama seseorang untuk koleksi. Tadinya kepalanya menghadap ke utara, sehingga batu itu seperti yang hendak berjalan ke arah Taman Hutan Djuanda.

Menurut penduduk sekitar yang sudah lanjut usia, dulu Batu Kuya sering membuat kehebohan berpindah tempat walaupun masih di sekitar sana. Terutama bila sebelum terjadi banjir bandang besar dari hulu melewati Cikapundung.

Pemandangan ke Jembatan Pasoepati dari Batu Kuya. (Foto: Benny)


Dahulu percaya jika Batu Kuya bergeeser sedikit saja akan terjadi air Cikapundung yang meluap. Sayangnya tak ada dokumentasi bukti perpindahan batu itu, sshingga generasi baru warga sekitar menganggap itu sebagai kekonyolan orang-orang masa lalu.

"Masa batu segede gitu bisa berpindah?" lontar Willy.

Benar atau tidak, semoga areal Sungai Cikapundung bisa lebih ditata rapi, terutama perkampungan Pulosari dan areal Batu Kuya.

0 comments:

Post a Comment