Tuesday, 12 April 2016

Empat Masjid Bersejarah di Bandung







Mengenali sejarah suatu kota bisa melalui masjid yang tersebar di dalamnya.  Terutama jika masjid tersebut masih menyimpan catatan perjalanan sejarahnya. Umumnya masjid-masjid bersejarah sudah mengalami pemugaran berulang kali. Bahkan sudah jauh bentuknya dari bangunan asli.

Di Bandung, berdiri beberapa masjid bersejarah yang terkait dengan sejarah kota Bandung sendiri. Empat di antaranya adalah masjid-masjid di bawah ini.

Masjid Mungsolkanas

Saya mengunjungi masjid ini ketika hendak shalat Jumat belum lama ini. Lokasinya berada di sebuah gang tepat di belokan Rumah Sakit Advent di Jalan Cihampelas Bandung. Menurut catatan Masjid Mungsolkanas berdiri Sejak 1869 yang  awalnya hanya berupa tajug yang sederhana. Masjid itu didirikan di atas lahan, yang diwakafkan oleh nenek Zakaria yang bernama Ibu Lantenas. Lantenas merupakan perempuan kaya, janda dari R. Suradipura, Camat Lengkong, Sukabumi, yang wafat pada 1869.

Masjid itu diberi nama Mungsolkanas  sebagai singkatan dari mangga urang solawat ka nabi SAW (mari kita solawat ke nabi SAW). Mungsolkanas pertama kali dipugar menjadi masjid pada tahun 1933, hampir bersamaan saat Wolf Schumaker membangun Masjid Kaum Cipaganti. Bedanya, Mungsolkanas dipugar atas biaya dan inisiatif Mama Aden, sedangkan Mesjid Kaum Cipaganti dibiayai oleh pemerintah kolonial Belanda.

Masjid Raya Bandung


 Saya termasuk sering ke masjid ini sejak kecil. Sepanjang hidup saya, masjid ini sudah empat kali mengalami perubahan. Masjid Raya Bandung Jawa Barat dahulu bernama Masjid Agung didirikan pertama kali pada tahun 1812. Masjid Agung Bandung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak, sekitar sepuluh kilometer selatan pusat kota sekarang.

Masjid ini pada awalnya dibangun dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudhlu. Air kolam ini berfungsi juga sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di daerah Alun-Alun Bandung pada tahun 1825.

Masjid Raya Cipaganti

Kunjungan saya ke masjid ini bisa dihitung jari tangan.  Masjid Raya Cipaganti merupakan salah satu masjid tua di Kota Bandung. Berdiri pada 7 Februari 1933, masjid tersebut berada di lokasi strategis, yakni pinggir Jalan Cipaganti. Masjid ini dirancang oleh arsitek Belanda Charles Prosper Wolff Schoemaker (arsitek Hotel Preanger dan Villa Isola) dibantu Het Keramische Laboratorium Bandung (sekarang Balai Besar Keramik).

Gubernur Hindia-Belanda memerintahkan  agar pusat kota beralih ke utara pada tahun 1933. Karena itu, Bupati Bandung R Tumenggung Hassan Sumadipradja bersama Patih Bandung R Wirijadinata dan Penghulu Bandung H Abdoel Kadir mengusulkan agar dibangun masjid di Jalan Cipaganti No 85 (dulu namanya Banana Street).

Masjid Ujungberung



Saya biasanya shalat Jumat di masjid ini karena dekat kantor, dan selalu penuh oleh warga sekitar, karyawan sekitar dan siswa yang sekolah di sekitar masjid.


Masjid Besar Ujungberung  didirikan pada tahun 1813  oleh masyarakat asli setempat. Saat itu masih berbentuk langgar. Kawasan kaum Ujungberung menjadi pusat kegiatan masyarakat dari mulai KUA, tempat beribadah dan tempat kegiatan lainnnya. Masjid ini telah mendapatkan rehab selama 5 kali hingga tercipta bangunan semegah ini dan dinamakan Masjid Besar Ujung berung, Masjid ini mempunyai andil yang besar dalam si’ar Agama Islam khususnya di daerah Bandung Timur, karena pada saat itu Bandung Timur, seperti Cileunyi–Cicadas, masjid Besar baru ada di Ujung Berung.

1 comment:

  1. Waas, dulu saya sekolah di Pasundan 2. Sering jumatan di Masjid Cipaganti :)

    ReplyDelete