Monday, 29 February 2016

Mencicipi Keunikan Menu 'Coffee Chicken ala Parc de Ville' di Bandung




Daging ayam selalu menjadi hidangan favorit saat di meja makan. Tidak heran jika kita menemukan beragam jenis menu olahan daging ayam. Tapi menu daging ayam yang satu ini mungkin terbilang langka, yakni Coffee Chicken.

Saya berkesempatan mencicipi ayam goreng bersaus kopi ini di Parc De Ville Restaurant, di Jalan Merdeka, Bandung. Tidak hanya namanya yang bikin penasaran, bentuknya ketika dihidangkan pun membuat mata saya berbinar. Potongan ayam bagian paha atas dibalut tepung, dengan sedikit lumuran saus beraroma kopi itu pun akhirnya segera pindah ke lidah saya.

Kerenyahan ayam saat digigit, serta tekstur daging yang empuk, ditambah sausnya yang seperti karamel kopi pun ikut membuat saya merasakan sensasi baru menikmati daging ayam. Aroma kopi yang menempel di lidah cukup kuat dan saya yakin inilah letak keistimewaannya. Apalagi, sensasi rasa lemon kadang muncul pula di lidah. 

"Sebenarnya coffee chicken ini  bisa ditemukan di beberapa restoran oriental. Cuma di sini kami mengolahnya lagi agar lebih nikmat," jelas Chef Yono dari Parc De Ville.

Lantaran berasal dari China, tidak heran jika olahan daging ayam ini dianggap lebih cocok disantap dengan nasi hainam. "Jika dimakan dengan nasi putih biasa kurang pas. Rasa coffee chicken ini ada manisnya sedikit, jadi lebih pas dimakan dengan nasi hainam yang kaya rasa," sambung chef yang sudah memulai karir sejak tahun 1993 dan pernah menjelajah ke beberapa negara di Asia Tenggara ini.

Menu Istimewa

Makan di Parc de Ville punya daya tarik sendiri bagi saya. Restoran ini berada di lantai tiga Best Western Premier La Grande Hotel yang berbintang empat. Sambil makan, saya bisa menikmati suasana kota Bandung lewat jendela kaca, atau bahkan dari bagian semi outdoornya. Akan lebih romantis jika datang di malam hari.

Selain itu, saya bisa menikmati pula aneka pilihan hidangan sesuai selera. Salah satu menu signature Parc de Ville adalah Iga Bakar Asam Pedas. Dari penyajiannya yang kental kelokalannya --tempe, tahu, sambal-- meyakinkan saya untuk segera menyantapnya. Satu-satunya bahan non-lokal adalah beef, yang mau tidak mau harus daging import demi kelezatan maksimal.


Iga bakar ini merupakan menu yang masuk ke ala carte atau price per dish  di Parc de Ville. Dengan harga Rp,118.000 nett kita sudah bisa menikmati kelezatan iga bakar yang empuk, serta rasa asam pedas yang memang jadi favorit orang Indonesia.

Yang menarik, di resto ini terdapat menu-menu lezat dan untuk business luncheon, dengan harga promo Rp88.000 per pax. Beberapa menu yang bisa rekomendasikan karena saya  pernah mencicipinya adalah Ebi Tempura Tei Shoku, Nasi Goreng Kambing, dan Seafood Hor Fun.


Ebi tempura yang saya cicipi di Parc de Ville memiliki keistimewaan kerenyahan bagian luar, tapi tetap lembut bagian udangnya. Saus tempura yang lezat dan keibetsu sarada aplle untuk dressingnya juga menciptakan sensasi tersendiri di lidah. Menu ini disajikan pula dengna nasi, jadi cukup kenyang untuk santap siang.


Bagi pecinta chinesse seafood, saya sarankan untuk mencicipi hidangan seafood hor fun. Bahan utamanya adalah kway tiau yang disangray lebih dulu sebelum dicampur saus soy. Aneka sayuran melengkapi hidangan ini.  


Nasi goreng kambing mungkin sudah familiar bagi banyak orang. Tapi cara penyajian di Parc de Ville terbilang unik karena diletakkan di atas mangkuk nenas. Daging kambing memang selalu identik dengan nenas yang biasa dipakai untuk melembutkan daging kambing dan aromanya. Pelengkapnya ada telur dadar, ayam goreng krispi, acar dan emping. Jangan ditanya bagaimana rasa sambalanya. Resto ini juara dalam menghidangkan sambal lokal di beberapa hidangannya. Saya pernah merasakan sembilan jenis sambal di restoran ini, dan bikin nagih.

Coffee chicken sendiri masuk ke dalam paket menu bussiness luncheon ini. So, kalau ingin mencicipi makanan dengan menu unik, lezat dan venue yang asyik, coba saja mampir ke Parc de Ville.


Foto-foto: Mister Bandung


0 comments:

Post a Comment