Friday, 8 January 2016

Selfie Menantang Maut di Tebing Keraton Bandung




Tebing Keraton hingga kini masih menjadi obyek  wisata favorit di Bandung. Mungkin karena letaknya yang tak jauh dari kota Bandung, ditambah pesona alamnya yang memang cantik. Perubahan di lokasi Tebing Keraton pun kian terasa dibandingkan awal mula dikenal publik pada tahun 2014.

Untuk masuk ke dalam Tebing Keraton, pengunjung wajib membayar tiket masuk sebesar Rp.11.000. Entah mengapa hitungannya ganjil begitu. Jadi kerap penjaga loket harus mencari-cari dulu uang kembalian. Ujung-ujungnya pengunjung rela menyerahkan uang kembali.



Toilet langsung tersedia di dekat loket masuk. Disarankan bagi yang gampang beser di daerah sejuk mampirlah dulu karena akan kerepotan kalau sudah berjalan ke area Tebing Keraton. Setelah itu berjalan menurun ke sisi kanan untuk menuju Tebing Keraton. Ada papan petunjuk yang mengarahkan pengunjung.

Bila musim hujan sebaiknya agak hati-hati berjalan karena licin meskipun jalan setapak sudah diplester. Disarankan memakai sepatu atau sandal yang tidak mudah slip. Kalaupun nanti ingin foto gaya-gayaan, masukkan ke tas saja dulu.

Sebelum memasuki tebing yang menjorok, sebaiknya baca dulu papan penjelasan tentang Tebing Keraton dan tata tertibnya. Salah satu poin yang harus diketahui bersama adalah tidak melewati pagar pembatas tebing. Tapi yang terjadi?





Hingga kini tebing yang berada di luar pagar pembatas masih jadi sasaran berfoto ria ataupun selfie pengunjung. Mungkin karena ingin meniru gaya-gaya foto sebelum Tebing Keraton dipagar. Padahal, tentu saja pengelola Tebing Keraton punya alasan memagar tebing itu.

Seperti yang saya lihat, nyaris semua yang datang berebut menerobos pagar, walaupun merepotkan. Lalu turun ke batu besar di pipir tebing sekalipun harus menantang maut. Sebab bila terjadi longsor ataupun tergelincir, nyawa harus siap melayang ke dasar jurang.

Sebenarnya jika tahu memilih spot yang bagus, pengunjung tak perlu sampai harus menantang maut di Tebing Keraton. Apalagi jika datang sepagi mungkin. Berfoto di atas lautan awan bisa didapat jika beruntung. Belum lagi membuat siluet dengan latar belakang fajar menyingsing.

Di Tebing Keraton juga sekarang telah berdiri pula menara pandang untuk yang ingin melihat pemandangan sekitarnya dari tempat yang lebih tinggi. Jika tahu caranya, kita bisa membuat potret seakan berada di pucuk-pucuk pinus.

Cara ke Tebing Keraton

Bagi yang ingin ke Tebing Keraton Bandung, bisa dengan berbagai cara. Bila dengan sepeda dan sepeda motor terus saja ke arah Dago hingga melewati area Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda atau Goa Pakar. Sampai ada cagak, ambil arah yang ke kawasan yang disebut Warung Bandrek. Lalu terus melaju hingga ke Kampung Kordon dan Kampung Ciharagem.

Yang menggunakan kendaraan roda empat pribadi, akan diminta turun di Warung bandrek dan lanjut dengan oke motor yang harganya sudah dipatok, Rp50.000 pulang-pergi. Siap-siap saja melalui jalur yang menajak, serta jalan licin dan berbatu lepas. Tapi sebenarnya kalau kita mau menikmati alam sekitar, rasa tegang akan hilang sepanjang perjalanan. Apalagi saat melewati kawasan perbukitan yang ditanami palawija.

Untuk yang naik kendaraan umum, bisa naik angkot Jurusan Ciburial lalu turun di jalan menuju Tahura, dan dilanjutkan ojek. Bisa juga melanjutkan ojek langsung dari terminal Dago. Tapi beberapa ojek hanya mamu mengnatar sampai Warung Bandrek lantaran ojek dari Warung Bnadrek ke Tebing Keraton kentara memonopoli trayek tersebut.

Paling mudah adalah menjadi travel biro ataupun paket tour. yang penting siapkan dana lebih saja.

Foto-foto: misterbandung.com


0 comments:

Post a Comment