Monday, 4 January 2016

Cantiknya Teras Cikapundung Bandung Saat Malam Hari





Sebagai warga Bandung, setiap kali mendengar kehadiran ruang publik baru pasti ingin buru-buru mendatanginya. Itulah yang dirasakan ketika saya rasakan begitu membaca tentang Teras Cikapundung di media sosial. Saya pun akhirnya untuk mengunjunginya kemarin. 

Sebenanrnya ruang publik ini dulu diberi nama Amphitheater Cikapundung. Mungkin kesulitan menyebutkannya, belakangan malah berubah jadi Teras Cikapundung. Bahkan semakin kuat ketika Ridwan Kamil membuat soft launching, tertera di dinding buatan tulisan Teras Cikapundung.

Ruang publik ini memiliki konsep urban dan ekologi di sekitar aliran Sungai Cikapundung. Sungai Cikapundung sendiri adalah sungai yang membelah Kota Bandung. Sungai ini terbentang dari kawasan Bandung utara hingga Bandung selatan yang bermuara di Sungai Citarum. Sungai ini berhulu di utara Kota Bandung, yakni di daerah Lembang (Curug Ciomas). Aliran sungai ini melewati permukiman dan kawasan pusat bisnis di tengah Kota Bandung, yakni kawasan Braga/Viaduct dan Alun-alun Bandung (sebelah gedung PLN). 


Secara kebetulan aliran Sungai Cikapundung juga melalui tepat tinggal keluarga isteri saya di Linggawastu. Jadi, kami sekeluarga punya kepentingan dengan hadirnya Teras Cikapundung ini. Saya masih ingat sekali, bagaimana dulu Sungai Cikapundung ketika kecil sering dipakai berenang karena akhirnya tak sekeruh sekarang. Malahan, dulu sekali, anak-anak kecil sebelum dikhitan sengaja berendam di Sungai Cikapundung agar ba'al (kebal) saking dinginnya.

Selain sebagai  kamot├ękaran (kreativitas) warga Bandung, Teras Cikapundung punya prospek cerah menjadi destinasi wisata baru plus ruang berkumpulnya masyarakat umum. Saat hari ketiga dan akan ditutup kembali oleh Ridwan Kamil untuk dilanutkan pembangaunannya saja, pengunjung sudah berjubel.








Letak Teras Cikapundung berada kawasan Babakan Siliwangi, sebuah hutan kota yang dulu lebih dikenal sebagai basecamp para seniman Bandung. Dulu tempat ini saya ingat benar cukup menyeramkan dan sering disebut "tempat jin buang anak".

Adapun konsep ekologi di tempat ini yakni dengan adanya perpaduan dengan alam hijau yang selama ini dikenal jadi ciri Babakan Siliwangi. Bahkan aliran Sungai Cikapundung pun mulai diberdayakan, salah satunya dengan adanya perahu karet. Beberapa fasilitas yang ada di Teras Cikapundung, yakni Jembatan Merah  yang eye catching penghubung  bantaran Sungai Cikapundung. Selain itu, ada juga terasering buat duduk-duduk atau nonton ke arah amphitheater.  

Nah, amphitheater sendiri mengusung konsep ekologi. Di area amphitheater dibuat sumur resapan yang berjumlah 15 buah. Di area tersebut juga ditanami pohon dan tanaman untuk membuat kawasan tersebut hijau dan tetap asri. Di amphitheater, masyarakat bisa melakukan aktivitas pertunjukan atau  nonton bareng. Tak kalah menarik adalah  air Mancur  di beberapa lubang. 

Ingin melihat Teras Cikapundung tanpa kepanasan. Cobalah datang malam hari. Fotografer Dudi Sungandi mengabadikan kecantikan Teras Bandung saat malam hari seperti di bawah ini.








(Foto-foto: misterbandung.com dan Dudi Sugandi)

2 comments:

  1. Bersih ya. Mudah-mudahan yang datang nggak buang sampah sembarangan :)

    ReplyDelete