Monday, 25 July 2016

Uniknya Taman Balkot, Taman Paling Tua di Bandung




Pagi itu saya memasuki area perkantoran  Ridwan Kamil. Bukan untuk menemui sang Walikota karena sedang akhr pekan tentunya libur. Saya bermaksud jogging di taman di lingkungan kantor sang Walikota yang biasa disebut Taman Balai Kota atau orang Bandung biasa menyingkatnya Taman Balkot.

Suasana sejuk karena pepohonan rindang menaungi taman. Tampak beberapa pekerja bangunan sedang membenahi area taman di bagian tengah. Saya pun berlari menapaki area jogging yang sudah diramaikan warga Bandung lainnya.

  
 


Taman  Balai Kota  yang saya tahu merupakan taman paling tua di Kota Bandung. Dibangun pada1885 dengan nama Pieter Sijthoffpark atau Pieterspark. Namun nama terlalu sulit untuk disebut orang Bandung yang akhirnya lebih senang menyebutnya Kebon (Kebun) Raja karena di sebelah timur taman  ada sekolah bernama Kweekschool voor Inlandsche Onder Wijzern. Sekolah ini sering disebut Sakola Raja.

Nama  Sijthoffpark diambil dari nama Asisten Residen Priangan, Pieter Sijthoff, yang berjasa terhadap penghijauan kota Bandung. Taman yang memiliki luas 14.720 meter persegi ini dibangun R. Teuscher, pakar tanaman  yang  tingal di pojok Tamblongweg (Jalan Tamblong).

Pada 1950 taman ini menjadi Taman Merdeka sesuai nama jalan di sisi timur yakni Jalan Merdeka.. Sekitar  1980-an, Taman Sijthoffpark dikenal dengan sebutan Taman Badak Putih karena berdirinya patung badak putih di kolam yang dibangun di taman itu. Kemudian pada 1996 berubah lagi  menjadi Taman Dewi Sartika, karena di sana dibangun patung sedada Dewi Sartika. Sekarang taman ini menjadi Taman Balai Kota. Alasannya sudah jelas karena letaknya di Kompleks Balai Kota. Tepatnya di antara Jalan Wastukencana, dan Jalan Merdeka.

  










Taman ini merupakan salah satu taman yang direvitalisasi  Ridwan Kamil yang terpilih menjadi Wali Kota Bandung pada 2013. Di taman ini tidak ada yang berubah. Di tengah-tengahnya masih tetap ada gazebo yang tertutup teralis. Kemudian ada patung sedada Dewi Sartika. Di sana juga masih berdiri Patung Badak Putih. Kemudian ada dua patung burung merpati yang menghadap ke Balai Kota tempat wali kota berkantor.

Patung Dewi Sartika yang berdiri menghadap ke Jalan Perintis Kemerdekaan berdasarkan prasasti yang menempel di sana diresmikan oleh Wali Kota Bandung saat itu  Wahyu Hamijaya pada 4 Desember 1996. Bagian pojok  tengara taman ini sekarang lebih dikenal dengan nama Taman dewi Sartika.

Patung badak putih usianya lebih tua daripada patung Dewi Sartika. Patung ini diresmikan pada 10 November 1981 oleh  Wali Kota Bandung saat itu  Husen Wangsaatmadja, dan oleh Ketua DPRD DT II Kodya Bandung Drs. Abdul Rochym.




Saya mengitari taman. tidak hanya orang dewasa saja yang menikmati taman yang bisa dinikmati dengan gratis, termasuk bebas parkir. Banyak anak-anak juga bisa berekreasi di Taman balkot. Apalagi ada fasilitas ayunan dan jungkit, lalu ada sarana fitnes, dan juga air kran yang bisa diminum langsung. Beberapa komunitas melakukan kegiatan, seperti senam pernafasan maupun yoga. Mau gabung? Tinggal bicara saja dengan mereka.




Monday, 27 June 2016

Di Cocorico Resto & Cafe Bisa Buka Puasa Sambil Melihat Bandung Bercahaya







Suasana hangat berpuka puasa bersama ditambah dengan memilih venue yang tepat. Di Bandung ratusan pilihan cafe dan resto sangat variatif, mulai dari tradsional maupun modern, dari ukuran kecil sampai besar, dari yang berada di tengah kota sampai dataran tinggi di utara Bandung. Sasalah satunya yang berada di dataran tinggi utara Bandung yang layak dijadikan pilihan adalah Cocorico.

Letaknya berada di daerah Bukit Pakar Timur, melewati terminal Dago di kawan Bandung sebelah utara. Meskipun demikian, Cocorico tak terlalu jauh dari jalan raya sehingga tak banyak makan waktu untuk menempuhnya.


Agar tak terjebak kemacetan sore hari di sekitar Dago pojok, cobalah datang lebih awal atau mengambil jalur dari kawasan Cikutra. Biasanya relatif lebih lenggang. Ambillah jalan menuju ke daerah Ciburial di belokan. Jangan yang ke arah Dago Pakar maupun Dago Ressort.

Pengunjung juga dimanjakan dengan parkir yang luas di seberang Cocorico. Jadi tak usah cemas parkir dij alanan curam seperti kebanyakan resto lainnya. Memasuki Cocorico akan terasa hommy karena bagian depan di atur tempat duduk menggunakan sofa. Baru di bagian belakang bisa terlihat jajaran kursi dan meja layaknya tempat makan.



Bagian belakang merupakan bagian favorit karena bisa melihat ke dataran rendah kota bandung. Saat magrib tiba, cahaya kota Bandung pun mulai terlihat.

Pilihan Menu

Ayam penyet sambal mantah

Banyak menu pilihan Indonesia maupun Eropa di Cocorico. Tapi sekadar tahu saja, menu ayam penyet di sini sangat disukai. Apalagi dengan sambal mantah seperti di bali. Rasanya maknyusss.

iga bakar

sop buntut
bebek goreng
  
Tak kalah seru pula menu bebek gorengnya yang menurut saya renyah sekali. Kebetulan saya pilih menu ini saat mampir di Cocorico. Rasanya tidak mengecewakan. Takaran porsinya pun pas, tidak bikin kita kekenyangan dan menyisakan makanan.

Jika senang iga dan sop buntut boleh juga dicoba. Tapi saya kurang cocok dengan sop buntut di sini. Entah kenapa ya. Mungkin karena bututnya kurang empuk. Kalau kuahnya sendiri sih juara.

Untuk minuman, saya memilih mojito yang segar. Tapi minuman jenis lain juga banyak. Aneka latte dan kopi. Untuk dessert saya sarankan agar memesan Es Azis Ompong. Dessert layaknya es campur ini didominasi peuyeum yang lezat. Nama menunya dibuat berdasarkan nama koki di resto ini.


Es Azis Ompong ini layak coba.


Dibandingkan cafe & resto di kawasan ini, Cocorico menurut saya lebih bersahabat dalam urusan harga. Tapi venue-nya tidak kalah dengan yang lainnya.


Tuesday, 7 June 2016

Benarkah Batu Kuya di Cikapundung ini Bisa Berpindah?




Jika menelusuri labirin di kawasan Lingga Wastu, Bandung, maka kita akan sampai di sisi Sungai Cikapundung yang membelah Bandung. Peamandangan sungai yang kurang nyaman untuk dinikmati, tapi sangat menarik untuk ditelusuri sejarahnya. Karena di sana terdapat pertemuan dua aliran sungai yang terbelah melintas Pulosari. Di sanalah pula kita bisa melihat 'Batu Kuya' yang misterius.

Sebelum membahas Batu Kuya, saya akan bercerita sedikit tentang Pulosari. Tahukah, bahwa tempat ini sesungguhnya seperti sebuah pulau kecil di tengah Sungai Cikapundung. Dulu, pulau kecil itu tak berpenghuni kecuali kebun milik seorang dari sisi Taman Sari/Balubur.

Air sungai Cikapundung yang mengalir deras pun berada di sisi timur dekat balubur. Smenetar sisi timur yang dekat Lingga wastu malah kecil terbendung, dan ceruknya lebih banyak dipakai untuk berkebum dan samah. Tapi bendungan itu akhirnya jebol sehingga air sungai malah deras mengalir ke  ke barat.

Aliran sungai pun kini mengalir ke bagian barat. Sementara aliran sebelah timur nyaris lebih menyerupai parit ketimbang sungai. Apalagi ketika Pulosari lambat laun berubah jadi perkampungan manusia yang terlihat kumuh. Hilang sudah keasrian yang tak mampu mencegah ledakan penduduk kota Bandung.

Kampung Pulosari dari Batu Kuya. (Foto: Benny)


Pada pertemuan aliran Cikapundung  barat dan timur, bentangan sungai makin lebar. Di dekat sanalah terdapat sebuah batu berukuran lebar sekitar diameter dua meter. Penduduk sekitar menyebutnya Batu Kuya.

Nama tersebut diberikan karena bentuk batu yang meyerupai kura-kura. Saat saya melihatnya memang yang tampak hanya betuk tempurung kura-kuranya. Di mana bagian kepalanya? Menurut Pak Kamal, warga Lingga Wastu, bagian kepalanya dipotong sama seseorang untuk koleksi. Tadinya kepalanya menghadap ke utara, sehingga batu itu seperti yang hendak berjalan ke arah Taman Hutan Djuanda.

Menurut penduduk sekitar yang sudah lanjut usia, dulu Batu Kuya sering membuat kehebohan berpindah tempat walaupun masih di sekitar sana. Terutama bila sebelum terjadi banjir bandang besar dari hulu melewati Cikapundung.

Pemandangan ke Jembatan Pasoepati dari Batu Kuya. (Foto: Benny)


Dahulu percaya jika Batu Kuya bergeeser sedikit saja akan terjadi air Cikapundung yang meluap. Sayangnya tak ada dokumentasi bukti perpindahan batu itu, sshingga generasi baru warga sekitar menganggap itu sebagai kekonyolan orang-orang masa lalu.

"Masa batu segede gitu bisa berpindah?" lontar Willy.

Benar atau tidak, semoga areal Sungai Cikapundung bisa lebih ditata rapi, terutama perkampungan Pulosari dan areal Batu Kuya.

Monday, 6 June 2016

Tempat Asyik Buka Puasa di Jalan Burangrang Bandung




Kebanyakan pendatang dari luar kota Bandung hanya mengenal lokasi wisata kuliner di daerah sekitar Jalan Riau, Kawasan Dago, Pasir Kaliki maupun Jendral Sudirman. Padahal kawasan wisata kuliner yang terbilang lengkap dan bervariasi juga ada di Jalan Burangrang Bandung. Apalagi  cocok untuk berbuka puasa.

Di Jalan Burangrang menuju masjid jika ingin lanjut taraweh juga nggak sulit karena berdiri masjid Mujahidin yang luas.

Berikut saya pilihkan lima tempat asyik untuk berbuka puasa di Jalan Burangrang.

Martabak Manis Tropica





Kedai Martabak Tropica menyediakan hanya martabak manis. Na, yang manis-manis kan disarankan untuk berbuka puasa. Jadi pilihan mampir ke sini sudah tepat. Berbeda dengan kedai martabak lainnya, di sini disediakan bagi pelanggan yang mau makan di tempat. Jadi nggak selalu harus dimakan di rumah. Nanti keburu lapar.

Saya merekomendasikan tempat ini karena pilihan varian rasa yang banyak. Tapi andalan saya tetap ya martabak manis cakalang dan martabak pizza.

Pak Bondan juga bolak-balik ke Martabak Tropica saking sukanya.
(Footo: Benny)

Baso Malang Enggal

Bakso malang satu ini sangat terkenal sejak lama. Bahkan sudah melegendaris sebagai bakso malang yang enak dan sehat. Kabarnya, pembuatan baso di sini juga sehat karena menghindari bahan kimia. Jika ingin berbuka di sini, pastikan lebih awal karena antrean biasanya sangat mengular ke jalan.





Batagor Riri




Batagor ini sudah terkenal sejak 1985. Tak aneh jika penggemar batagor selalu menyempatkan kuliner satu ini. Tahunya sangat lezat kalo menurut saya. Bagian basonya sangat terasa ikan tenggirinya. Ditambah  kacangnya yang renyah. Klop untuk disantap saat buka, setelah menikmati tajil tentunya.






Bakso Urat Boedjangan


Bagi penggemar bakso urat, maka inilah salah satu tempat pilihan yang patut dipertimbangkan. Jangan khawatir dengan rasanya, karena tetap seeprti baso kampung yang masuk kedai. Gurih dan uratnya nggak berasa sandal jepit. Selain bakso urat juga bisa disantap varian anek mie, dari yang hijau sampai hitam.


Kalo buku puasa di sini, pastikan saja datang lebih awal biar kebagian tempat duduk. Kecuali pengen membungkus dan menyantapnya di rumah.





In & Out Eatery


In & Out Eatery tempat makan segala ada. Jadi kita bisa memilih menu berbuka pauasa mulai dari minuman, makananan sedang sampai makanan berat.

Kalau saya skeeluarga biasanya ke sini mencari kedai Nasi Goreng Mafia. Sebab cabang Nasi goreng Mafia kebanyakan di daerah Bandung utara. Buat buka puasa, pilihan menu di tempat ini dijamin nggak bikin bosen karena bisa disesuaikan dengan mood makanan hari itu.





Masih ada banyak pilihan kuliner yang umumnya makanan berat, mulai dari roti bakar Up Normal, Pempek Ulu Pak Anang, Maranggi 77. Pokoknya dijamin deh nggak menyesal buka puasa di sini. Cuman ya harus sabar kalau agak macet dan susah cari parkir. Ya samalah dengan di tepat lainnya kalau saat buka puasa tiba.


Tuesday, 10 May 2016

Empat Alasan Melipir ke Museum Konferensi Asia Afrika






Belum  tamat keliling Bandung jika tidak melipir ke Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Jalan Asia Afrika nomor 65 ini. Pasalnya, museum ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah perdamaian dunia. Ada lima alasan lain yang membuat kita harus masuk ke ruangan di sayap kanan Gedung Merdeka ini. Apa saja


Letak Strategis.


Museum KAA terletak di jalan utama yang sangat terkenal, juga berada di ujung Jalan Braga yang menjadi favorit wisatawan. Siapapun yang datang ke tengah kota Bandung akan mudah mengakses museum ini. Beberapa obyek wisata lain yang berdekatan antara lain, lapangan rumput sintetis alun-alun Bandung, Masjid Raya bandung, Penjara Soekarno Banceuy, dan masih banyak lagi.

Museum KAA dapat dicapai dengan kendaraan umum seperti bus kota dari Cicaheum ke Cibeureum atau Cibiru ke Alun-alun. Angkot berwarna hijau Stasiun Hall ke gede Bage juga melewati di bagian belakang museum.


Buka Tujuh Hari


Museum ini juga dibuka untuk umum pada hari Sabtu dan Minggu. Ya, sebab justru kawasan sekitar Gedung Merdeka ini ramai di akhir pekan. Jam buka Senin sampai Jumat seperti jam kerja, tapi tutup di saat istirahat makan siang. Sedangkan Sabtu dan Minggu buka setengah hari.



Untuk rombongan dalam jumlah besar sebaiknya menghubungi pihak museum dulu. Pasalnya harus diatur juga tempat parkir untuk kendaraan besar dalam jumlah banyak.


Cocok untuK Wisata Keluarga

Museum ini tidak hanya untuk orangtua yang ingin mengenang penyelengaraan Konferensi Asia Afrika saja. Museum KAA cocok juga untuk anak-anak yang ingin belajar sejarah dengan melihat foto-foto peristiwa, memorabilia,  serta peralatan yang dipakai saat digelarnya KAA pada tahun 1955.
Jangan takut untuk masuk bersama keluarga, apalagi pengunjung tidak dipungut bayaran alias GRATIS.

Nyaman


Setekah masuk dan mengisi buku tamu, pengunjung langsung merasakan ruang museum yang nyaman dan terang. Museum KAA memiliki konsep bangunan Art Deco, lantai menggunakan marmer yang sengaja didatangkan langsung dari Italia.  Ruangannya sendiri terdiri dari  kayu Cikenhout yang terkenal kuat dan penerangannya menggunakan lampu kristal.

Ruangannya juga tidak terlalu luas, jadi tidak perlu waktu banyak untuk mengelilinginya.


Nah ini aturan yang harus kita ketahui saat ke Museum KAA


  • Tidak berlarian di museum. Bicaralah dengan nada tenang. Gunakan suara rendah di semua area museum agar tidak mengganggu pengunjung lain.
  • Harap tidak makan, minum, mengunyah permen karet, atau menggunakan produk tembakau lainnya di dalam museum kecuali di kafe museum.
  • Pengunjung tidak diperbolehkan membawa senjata atau sejenisnya.
  • Tidak diperkenankan mengenakan sandal jepit atau sejenisnya.
  • Boleh berfoto namun tidak menggunakan kilat dan kaki tiga (tripod).
  • Untuk meningkatkan interaksi, pengunjung disarankan mengurangi penggunaan ponsel kecuali pada keadaan darurat saja.
  • Tidak menyentuh artefak.
  • Tidak masuk ke tempat dimana tur sedang berlangsung, silakan kembali kemudian.
  • Tidak menggunakan perangkat pameran sebagai alas untuk menulis.

Monday, 2 May 2016

Mengapa Cuankie Serayu Bandung Selalu Ramai?








Bagi penggila kuliner di Bandung, nama Cuankie Serayu sudah berada di kelompok teratas tempat jajanan berkuah yang harus dicicipi. Nyaris sulit mencari pembanding popularitas Cuankie Serayu untuk kuliner sejenis.


Saya sendiri merasa heran ketika menyambangi warung di Jalan Serayu 2 itu. Mobil dan motor parkir berdesakan di pinggir jalan di depannya. Tak ada halaman parkir khusus. Bahkan juru parkir yang mengatur sampai tiga orang. Sampai saya harus parkir mobil lumayan jauh. Di luar warung, lima meja berjajar dipenuhi puluhan pembeli. 


Di depan pintu, terdapat gerobak untuk pembeli yang membawa pulang pesanan. Sementara di pintu masuk depan gerobak untuk yang makan di tempat, pembeli tak kalah berdesakkan menyebutkan pesanan. Di meja bagian dalam saya lihat kursi penuh dengan orang yang sedang makan cuanki emaupun menu batagor.

Jadi, jika ke Cuankie Serayu pastikan dulu mendapat tempat duduk. Agak repot jika rombongan memang. Setelah itu barulah meemsan langsung. ya, jangan duduk manis menunggu pelayan mencatat pesanan. Kita harus agresif ke pelayan di gerobak pesanan.

Lantas apakah yang membuat Cuankie Serayu yang seperti warung mie bakso sederhana ini begitu ramai setiap harinya?

Pertama, kita lihat dulu ya menunya. Sebenarnya hanya ada dua menu utama di warung ini. Cuanki edan batagor. Mayoritas orang ke sini tentu untuk membeli cuanki. Apa itu cuanki? Bayangkan saja bakso malang, tapi tanpa mi. Isinya ada baso, pangsit basah, pangsit kering, siomay basah, baso tahu basah, dan jika suka tambahkan kerupuk. Harga semangkuk Rp15.000  atau Rp10.000 setengahnya.

Saya saya mulai mencicipi kuahnya, terasa gurih. Karena saya penggemar asam-manis-pedas, ya saya tambahkan sendiri cuka, sambal dan kecap. Lalu isiannya satu persatu saya cicipi. Menurut saya hampir semuanya enak. Apalagi pangsitnya. Juara!

Dari sini saja saya sudah bisa menyimpulkan sebab Cuankie Serayu ini. Pertama, rasanya memang memuaskan lidah dan perut. Porsi full tidak terlalu bikin mual maupun kekenyangan. Lagi pula ada porsi setengah. Kedua, harganya sangat bersahabat. Biasanya di kios-kios lain, porsi jajanan berkuah saat ini sudah di atas Rp20.000.

Dengan dua hal ini saja kekuarangan yang saya rasakan bisa langsung diabaikan. Mulai dari susah parkir dan ruangan yang sempit untuk makan. Plus, kalau datang siang hari suasana sangat sumpek dan panas. Tapi percayalah, jika sudah suapan ketiga, kita akan lupa kesumpekan itu. Fokus kita akan pada mangkuk cuankie di depan kita.

Cuankie Serayu didirikan oleh pria asal kebumen bernama Kasno  pada tahun 1997. Jadi tidak heran jika belasan karyawan yang ada di warung itu hilir mudik dalam bahasa Jawa, sementara warungnya sendiri ada di Bandung. Tapi tentu saja cuankie sendiri merupakan kuliner khas bandung. Dulu sewaktu kecil saya senang membeli cuankie yang dipikul. Saat itu kami menyebutnya bakso cuankie. Cuankie itu katanya singkatan cari uang jalan kaki. Dan itu sering ditulis di pikulannya. 

Thursday, 14 April 2016

Merinding Masuk Gua Jepang dan Gua Belanda di Bandung



Bagi penggemar keindahan alam di Bandung, tentunya tak heran denan obyek wisata Taman Hutan Raya Djuanda. Selain karena rindangnya peohonan yang menyegarkan paru-paru, juga terdapat dua gua peninggalan penjajah Belanda dan Jepang. Banyak yang penasaran masuk ke dalam gua-gua itu lantaran selintingan kabar horor yang beredar.

Terdapat dua jenis gua di sana. Pertama yang akan ditemui adalah deretan gua Jepang. bentuknya pintu masuknya sedikit lebih rendah ketimbang gua Belanda. Di dalamnya juga terasa lembap. Pengunjung bisa menyewa senter dari penyewa di mulut gua. Tapi sekarang orang lebih suka memakai cahaya dari ponsel. Biar lebih terasa horor.

Saya sendiri sedikit merinding ketika berada di dalamnya. Apalagi ketika lampu dimatikan tiba-tiba. Serba gelap. Apalagi saat meraba dinding yang dingin. Konon di gua ini pengunjung pantang menyebut kata "Lada" sebab itu adalah nama pimpinan pasukan pada masa lalu.







Gua Jepang memiliki empat pintu masuk. Tiga gua di dalamnya terdapat pintu-pintu penghubung dengan gua lainnya, sedangkan satu gua sebagai pengecoh musuh.

Bergeser sedikit, kita bisa melihat gua Belanda yang pintu masuknya lebih besar dan dalamnya uga lebih luas. Mungkin karena orang-orang Belanda lebih tinggi besar. Di gua ini jauh lebih nyaman dan sedikit terang. Walaupun tetap saja bulu kudu merinding jika membayangkan apa yang terjadi pada masa lalu. Apalagi saat masuk ke ruang-ruang tertentu yang lebih tinggi.

Gua Belanda ini sebenarnya merupakan sebagai instalansi air minum pada masa lalu. Jadi kalau terlihat dindingnya dibeton  ya tidaklah heran.

Kedua gua ini sering dijadikan lokasi syuting reality show TV. Untuk mencapainya sangat mudah, tinggal menuju ke arah terminal Dago, lalu terus ke arah Taman Hutan raya Djuanda. Jika punya nyali, cobalah datang malam hari. Ya, walaupun jam bukanya hanya dari pukul delapan pagi hingga enam sore. Siapa tahu mau kemping di taman hutannya?

Tuesday, 12 April 2016

Empat Masjid Bersejarah di Bandung







Mengenali sejarah suatu kota bisa melalui masjid yang tersebar di dalamnya.  Terutama jika masjid tersebut masih menyimpan catatan perjalanan sejarahnya. Umumnya masjid-masjid bersejarah sudah mengalami pemugaran berulang kali. Bahkan sudah jauh bentuknya dari bangunan asli.

Di Bandung, berdiri beberapa masjid bersejarah yang terkait dengan sejarah kota Bandung sendiri. Empat di antaranya adalah masjid-masjid di bawah ini.

Masjid Mungsolkanas

Saya mengunjungi masjid ini ketika hendak shalat Jumat belum lama ini. Lokasinya berada di sebuah gang tepat di belokan Rumah Sakit Advent di Jalan Cihampelas Bandung. Menurut catatan Masjid Mungsolkanas berdiri Sejak 1869 yang  awalnya hanya berupa tajug yang sederhana. Masjid itu didirikan di atas lahan, yang diwakafkan oleh nenek Zakaria yang bernama Ibu Lantenas. Lantenas merupakan perempuan kaya, janda dari R. Suradipura, Camat Lengkong, Sukabumi, yang wafat pada 1869.

Masjid itu diberi nama Mungsolkanas  sebagai singkatan dari mangga urang solawat ka nabi SAW (mari kita solawat ke nabi SAW). Mungsolkanas pertama kali dipugar menjadi masjid pada tahun 1933, hampir bersamaan saat Wolf Schumaker membangun Masjid Kaum Cipaganti. Bedanya, Mungsolkanas dipugar atas biaya dan inisiatif Mama Aden, sedangkan Mesjid Kaum Cipaganti dibiayai oleh pemerintah kolonial Belanda.

Masjid Raya Bandung


 Saya termasuk sering ke masjid ini sejak kecil. Sepanjang hidup saya, masjid ini sudah empat kali mengalami perubahan. Masjid Raya Bandung Jawa Barat dahulu bernama Masjid Agung didirikan pertama kali pada tahun 1812. Masjid Agung Bandung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak, sekitar sepuluh kilometer selatan pusat kota sekarang.

Masjid ini pada awalnya dibangun dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudhlu. Air kolam ini berfungsi juga sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di daerah Alun-Alun Bandung pada tahun 1825.

Masjid Raya Cipaganti

Kunjungan saya ke masjid ini bisa dihitung jari tangan.  Masjid Raya Cipaganti merupakan salah satu masjid tua di Kota Bandung. Berdiri pada 7 Februari 1933, masjid tersebut berada di lokasi strategis, yakni pinggir Jalan Cipaganti. Masjid ini dirancang oleh arsitek Belanda Charles Prosper Wolff Schoemaker (arsitek Hotel Preanger dan Villa Isola) dibantu Het Keramische Laboratorium Bandung (sekarang Balai Besar Keramik).

Gubernur Hindia-Belanda memerintahkan  agar pusat kota beralih ke utara pada tahun 1933. Karena itu, Bupati Bandung R Tumenggung Hassan Sumadipradja bersama Patih Bandung R Wirijadinata dan Penghulu Bandung H Abdoel Kadir mengusulkan agar dibangun masjid di Jalan Cipaganti No 85 (dulu namanya Banana Street).

Masjid Ujungberung



Saya biasanya shalat Jumat di masjid ini karena dekat kantor, dan selalu penuh oleh warga sekitar, karyawan sekitar dan siswa yang sekolah di sekitar masjid.


Masjid Besar Ujungberung  didirikan pada tahun 1813  oleh masyarakat asli setempat. Saat itu masih berbentuk langgar. Kawasan kaum Ujungberung menjadi pusat kegiatan masyarakat dari mulai KUA, tempat beribadah dan tempat kegiatan lainnnya. Masjid ini telah mendapatkan rehab selama 5 kali hingga tercipta bangunan semegah ini dan dinamakan Masjid Besar Ujung berung, Masjid ini mempunyai andil yang besar dalam si’ar Agama Islam khususnya di daerah Bandung Timur, karena pada saat itu Bandung Timur, seperti Cileunyi–Cicadas, masjid Besar baru ada di Ujung Berung.