Monday, 16 January 2017

Tujuh Kuliner Manis yang Paling Enak di Bandung



Bandung tak sekadar surga bagi para tukang selfi, tapi juga idaman para penggila kuliner. Sebab selalu saja ada makanan unik dan kekinian setiap waktunya. Bahkan berbagai rasa dan selera relatif lengkap di Bandung,

Untuk penggemar kuliner manis, di Bandung terdapat beberapa jenis nama yang terkenal karena rasanya enak banget. Ini tujuh di antaranya. Semua bisa dimakan langsung atau dibekal untuk oleh-oleh. Mulai dari brownies sampai salju bakar.



Brownies Kukus Amanda



Brownies mulanya  kue coklat yang dipanggang bantet sehingga menghasilkan tekstur yang agak keras. Nikmat dimakan untuk teman minum kopi dan teh. Brownis kukus Amanda tidak berbeda jauh dengan kue bolu biasa. Bedanya dengan brownies panggang adalah tekstur brownis kukus yang lembut sehingga terasa meleleh begitu sampai di mulut. Bagian tengah kue ini diolesi oleh coklat meleleh yang membuat lidah terus bergoyang. Sekali gigitan sangat terasa kelezatan cokelat yang begitu legit di dalam mulutnya.



Tokyo Banana Bandung



Tokyo Banana adalah cake sponge berbentuk seperti  pisang yang di dalamnya berisi fla pisang. Tapi belakangan isi dan warna pun berkembang mengikuti selera, seperti strawberry, cokelat, keju, melon, dan lainnya. Yang unik, apapun rasanya, bentuknya tetap menyerupai pisang. Yang membedakan adalah warnanya. 


Martabak Pizza Tropica



Bagi penggemar martabak manis suka bingung pilih rasa yang mana, mendingan pesan partabak pizza ala Martabak Tropica di Jalan Burangrang, Bandung. Sebab di martabak ini bisa pesan 10 rasa sekaigus. Jika masih kurang ada juga martabak kotak 16 rasa. Kurang puas apalagi coba? Toppingnya juga boleh milih sendiri.


Colenak Murdi Putra 


Colenak Murdi Putra, sudah ada dari tahun 1930, Awalnya Murdi membuka kedai di di bekas warung makan yang telah ditutupnya (depan toko yang sekarang). Murdi telah mewariskan kuliner ini pada tiga generasi keturunannya. Berkat anak cucunya rasa Colenak semakin berkembang dengan  memiliki variasi yaitu colenak rasa durian dan nangka. Tapi tentu saja mereka masih menjual Colenak rasa originalnya.


Murdi menjual colenak yang pada masa itu masih terdengar aneh. Bermodal alat pemanggang tape yang sangat tradisional dengan pembakaran masih menggunakan arang. Aroma yang dikeluarkan dari peuyeum sampai menarik perhatian dan mengundang tamu KAA pada tahun 1955. Hingga makanan khas Kota Bandung ini dijadikan dessert pada konferensi Asia-Afrika pertama.

Cara pengolahan Colenak sebenarnya sangat sederhana. Yang dilakukan hanyalah membakar peuyeum sebelum dipotong-potong. Potongan peuyeum bakar ini kemudian disajikan dengan saus yang terbuat dari karamel gula merah (kinca) yang telah dicampur parutan kelapa. Maka, jadilah hidangan sederhana dengan rasa manis yang berkelas. Kini colenak buatan Murdi  banyak dijual di supermarket.

Salju Bakar Nazwa



Selain penamaan yang unik, cita rasa lezat, tekstur lembut dan penampilan masing-masing kue yang menggoda merupakan segelintir alasan mengapa Nazwa Pastry begitu digandrungi penggemarnya. Salju bakar bisa di beli di Jalan Ciateul, Bandung.


Serabi Kinca Eka Rasa

Serabi banyak ditemui di bandung, tapi salah satu tempat  penjual serabi favorit  yakni  Serabi Kinca Eka Rasa. Letaknya di pusat kota, yaitu di Jalan Burangrang No.45. Di sini serabi tersedia dengan berbagai macam rasa, menu andalannya adalah serabi kinca rasa (serabi manis).

Bahan dasar makanan serabi adalah beras dan kelapa, sehingga memiliki nilai kabohidrat yang tinggi. Jadi jangan salah, dengan seporsi makanan serabi sudah bisa membuat anda kenyang, karena dapat dijadikan sebagai pengganti nasi.



 Pisang Bollen Kartika Sari


Pisang bolen  ini adalah perpaduan pisang dan keju yang dibalut adonan kulit pastry. Kelezatannya sudah tidak dapat diragukan lagi, perpaduan bahan-bahan dalam pembuatannya melahirkan rasa yang tiada duanya. Rasa keju dan pisangnya menyatu ketika kue tersebut digigit dan melumer di dalam mulut. Toko kue Kartika Sari memperkenalkan rasa kue bollen dengan berbagai varian rasa seperti pisang bollen cokelat, peuyeum (tape) bollen, durian bollen, kacang hijau bollen dan apel bollen.


Wednesday, 11 January 2017

Jalan-jalan Manja di Cihampelas Skywalk Bandung



Pejalan kaki bakalan dimanjakan oleh pemerintah kota Bandung saat melintasi Jalan Cihampelas yang terkenal sebagai pusat oleh-oleh. Pasalnya pejalan kaki bisa jalan-jalan santai di area yang luas tanpa takut diganggu kendaraan bermotor.

Cihampelas Skywalk, begitu proyek ini disebut. Apan sih? Sebenarnya ini merupakan jalan yang dibangun di atas jalan raya yang ada sekarang. Fungsinya sebagai jalur khusus untuk pejalan kaki sehingga kegiatan berbelanja dan berjalan kaki lebih nyaman. Selama ini, pejalan kaki berebut di Jalan Cihampelas dengan kendaraan bermotor. Benar-benar nggak nyaman.

Humas Pemkot Bandung



Skywalk ini menjadi ruang pejalan kaki yang dipindahkan ke atas jalan raya hingga lebih aman dan nyaman. Panjang skywalk ini mencapai 500 meter yang akan membentang dari RS Advent hingga Cihampelas Walk. Proses pengerjaannya telah dilakukansejak pertengahan September 2016, dan rencananya bulan ini segera akan diresmikan.

Cihampelas Skywalk dibangun dengan metode design and build yang akan memperpendek waktu pengerjaannya. Total anggaran yang digunakan untuk pembangunan Cihampelas Skywalk ini adalah Rp 45 miliar dari APBD Kota Bandung.

Cara ke Cihampelas Skywalk

Untuk yang nanti ingin menikmati skywalk ini, harus menuju Jalan Cihampelas. Beberapa angkutan kota yang mengarah ke jalan ini adalah Ledeng - Abdul Muis. Cicaheum - Ciroyom, Ledeng - Margahayu, Cisitu - Tegallega, st. Hall - Lembang. Tapi harus dipastikan arahnya sebab Jalan Cihampelas merupakan jalan satu arah dari utara ke selatan.

(foto: Dudi Sugandi)

Monday, 9 January 2017

Glamping Lakeside, Primadona Wisata di Bandung Selatan



Bandung tiada habisnya untuk dijelajah. Jika beres di kota Bandung, kita bisa menemui banyak destinasi wisata di daerah sekitarnya. Baik ke utara, timur, barat, dan tentu saja selatan. Salah satu primadona wisata Bandung selatan saat ini adalah Glamping Lakeside di Ciwidey, bandung.

Rute  menuju  Lakeside yang terkenal dengan Restaurant Pinisi ini bisa diakses dengan mudah, baik menggunakan kendaraan umum apalagi kendaraan pribadi. Lokasinya yang tepat berada di sekitar Situ Patenggang yang jaraknya tidak kurang sejauh 35 KM dari kota Bandung. Patokannya setelah perkebunan Rancabali adalah berada di sebelah kanan jalan.

Tak perlu bingung, ambil saja rute jalan melaui Kopo – Katapang – Soreang – Ciwidey – Rancabali – Situ Patenggang – Glamping Lakeside. Jika pakai kendaraan umum,  maka bisa berangkat dari terminal Leuwipanjang dan naik kendaraan dengan tujuan Ciwidey, dilanjutkan dengan naik kendaraan angkutan pedesaan atau bisa juga naik ojeg.

Sayangnya untuk lama perjalanan tidak bisa diprediksi dengan tepat, lantaran kepadatan kendaraannya alias macet apalagi di hari libur. Dalam kondisi normal dapat ditempuh dalam dua jam.Ada baiknya menghindari Jalan Kopo dari jam 06.00 – 08.00 wib dan jam 16.00 – 19.00 WIB karena macet.


Glamping Lakeside Rancabali Ciwidey ini sebenarnya bisa dikatakan hampir mirip dengan salah satu Resort di Bandung selatan lainnya , seperti Ciwidey Valley Resort maupun Glamping Legok Kondang.

Lokasi wisata Glamping Lakeside Rancabali Ciwidey  yang  berada di dataran tinggi pegunungan membuat saya takjub dan bikin betah.  Di sekitarnya, banyak  tersedia berbagai tempat penginapan  yang refresentatif, mulai dari villa hingga penginapan  hotel  berbintang, seperti Saung Gawir, Argapuri Resort Ciwidey, Kampung Pa’go atau Patuha Resort.


Fasilitas yang tersedia di Lakeside lumayan keren. Salah satunya adalah  Pinisi Resto  yang berbentuk kapal pinisi ini tepat berada di pinggir Situ Patenggang. Bangunan restauran yang berbentuk kapal Pinisi ini terbagi menjadi dua bagian area, yaitu bagian dalam terdiri dari 2 lantai ruangan restoran. Untuk bagian dalam lantai pertama adalah tempat untuk pesan makanan dengan area makan tertutup serta lantai ke dua adalah juga area makan, namun anda indoor dan outdoor nya.

Sementara bagian luar ruangan lantai satu yang lokasinya tepat berada di bagian dek bangunan resto berbentuk kapal pinisi ini, yang ternyata merupakan lokasi favorit pengunjung untuk menikmati hidangan sambil bisa bebas menikmati indah dan suasana alam sekitar Glamping Lakeside.

Jam buka Pinisi Resto,  Senin hingga Sabtu, mulai pukul 07.00 hingga malam hari.

Objek wisata keren lainnya yakni   Tent Resort, model tempat penginapan berupa tenda mewah dengan konsep glamping alias glamour camping yang sedang ngehits sekarang. Tent resort adalah jenis penginapan berupa tenda permanen. Glamping  bedanya dengan kemping biasa, di dalam tendanya sudah tersedia fasilitas yang menyerupai hotel bintang seperti kamar mandi yang luas dengan air panas, tempat tidur empuk perlengkapan lainnya. Sleeping bag? Hempaskan saja ya. Atau kali-kali mau tetap pakai dan tidur di luar gitu? Silakan saja kalao kuat.


Untuk bisa menikmati cara bermalam ala glamping Lakeside Situ Patenggang ini, pengunjung harus menyediakan isi dompet sebesar Rp.1.800.000/ malam. Harga tersebut cukup bersahabat jika anda akan mendapatkan tent resort dengan kapasitas 4 orang.

(Foto-foto: Dudi Sugandi)

Thursday, 5 January 2017

Netizen Incar Lokasi Selfie Baru di Bandung Mirip Buruj Al Arab



Bagi netizen penggemar foto selfie di Bandung, mencari obyek baru sebagai latar berfoto ria merupakan suatu kewajiban. Siapa yang pertama menemukan, dia akan merasa bangga. Apalagi jika setelah memasang foto di media sosialnya kemudian menjadi viral.

Salah satu lokasi foto yang saat ini jadi trending adalah kawasan utara kota Bandung, tepatnya di Dago Atas. Di sana, tengah dibangun sebuah hotel yang bentuknya menyerupai hotel terkenal Buruj Al Arab. Namun karena bangunannya kembar, ada juga yang menyebutnya mirip menara kembar Petronas, maupun kombinasi keduanya.

Lantas bangunan apa sebenarnya itu? Ternyata bangunan ini merupakan jaringan Melia Hotel International yang masih menilai pasar Indonesia sangat potensial, sehingga tertarik untuk mendirikan hotel yang ke-13 di Dago, Bandung. Konsepnya sendiri nanti merupakan urban resort  di bawah naungan Innside by Melia, Hotel ini akan menjadi bagian dari The MAJ Collections Hotel & Residences.

Bangunan  diperkirakan beres tahun ini terdiri dari 21 lantai,  Harapannya sih bisa seperti Burj Al Arab Dubai dengan bentuk bangunan seperti Menara Petronas. The MAJ Hotel & Residences menyediakan 233 kamar yang dilengkapi dengan arena bermain anak-anak, pusat kebugaran, kolam renang dan kebun yang luas. Konon pula, akan ada roof terrace yang menghubungkan dua menara. Sehingga tercipta integrasi fasilitas bisnis dan leisure. Sedangkan pada menara yang kedua akan dibangun apartemen hunian yang dilengkapi dengan gedung annex untuk ruang parkir mobil, ballroom, helipad dan kolam renang infinity yang keren di roof terrace.

Menurut beberapa netizen yang pernah foto dengan latar bangunan ini, ada hal menarik bisa mengambil selfie di sana. "Kan bisa bikin perbandingan, selfie dengan latar belakang gedung yang belum jadi, sama nanti kalau sudah jadi bisa selfie lagi di sini," kata Alvin (21 tahun).




foto : Dudi Sugandi

Wednesday, 4 January 2017

Melihat Kecantikan Jalan Layang Antapani Bandung


Beberapa hari lalu saya melintasi flyover baru di kota Bandung yang lebih di kenal dengan nama flyover Antapani. Seperti yang diungkap Walikota Bandung Ridwan Kamil, jembatan layang Antapani punya penampilan cukup menarik. Seluruh tembok jembatan layang penuh dengan mural karya seniman asal Bandung, John Martono.

Seperti yang saya saksikan, muralnya benar-benar menarik dibuat dengan wrana-warni pecahan keramik yang disusun mozaik. Berbeda dengan kebanyakan jembatan layang yang tampak abu-abu dan kusam. Malah beberapa jadi kumuh karena di kolongnya dipenuhi pemandangan tak jelas.

Pembangunan jembatan layang Antapani dibuat untuk memecah kemacetan di persimpangan sebidang Antapani, tepatnya di Jalan Jakarta. Lima tahun lalu, persimpangan itu sering saya lalui dan tidak seberap macet. Namun dari tahun ke tahun, kemacetannya tidak bisa ditolerir. Jarak yang mestinya bisa ditempuh setengah jam jadi lebih dari satu jam jika melalui persimpangan Antapani tersebut.

Jembatan layang Antapani merupakan proyek percontohan hasil inovasi dari Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Jembatan layang yang menelan anggaran Rp 33,5 miliar itu menggunakan teknologi struktur baja bergelombang dengan kombinasi mortar busa. Teknologi ini memiliki keunggulan, yakni proses konstruksi yang lebih cepat sekitar 50 persen dibandingkan pembangunan dengan struktur beton bertulang.

Lantaran berhiaskan mural cantik, banyak pecinta fotografi yang membidiknya sebagai obyek lensa kamera. salah satunya adalag fotografer Bandung Dudi Sugandi. Beginilah penampakan kecantikannya.







foto-foto: Dudi Sugandi

Tuesday, 3 January 2017

Hati-Hati Menyeberang di Zebra Cross Kota Bandung




Hati-hati jika sedang berada di kota Bandung, Jawa Barat, lalu berminat mencari zebra cross di beberapa ruas jalan raya. Kita pasti akan kesulitan mencari sarana peneyeberang jalan yang biasanya di desain belang-belang putih itu. Pasalnya, zebra cross di kota Bandung sebagian sudah berubah desain.

Tak lagi mirip warna kulit zebra, sarana penyeberang jalan ini kini diganti dengan aneka desain unik dan menarik. Ada yang mirip desain permainan ular tangga, sondakh atau engkle, dan suling. Kabarnya, ide ini disetujui Walikota Ridwan Kamil, lantaran pengemudi motor nyaris tak peduli lagi dengan nasib penyeberang jalan.

Sebagai pengemudi mobil, saya pun ikut prihatin dengan hal tersebut. Di  jalan raya Bandung, ketika saya berhenti sebentar untuk memberi ruang bagi penyeberang jalan, malah mobil di belakang terus memberi klakson tak sabaran.

Diharapkan dengan desain yang menarik ini,  pengemudi kendaraan sedikit lebih  perhatian dengan  hak pejalan kaki.  Dan tentu saja pejalan kaki juga mau sedikit repot-repot mencari ruas yang pas untuk menyeberang jalan. Jadi nggak sembarang menyeberang jalan juga. Apalagi di jalan raya yang ramai.

Saat ini baru tujuh titik zebra cross unik dibuat di Bandung, terutama di Jalan Merdeka, Braga, dan Soekarno Hatta. Jika memang dirasakan efektif, bisa diperbanyak lagi di beberapa titik lainnya, kan?

Nah, bagaimana pendapat para pejalan yang sudah menggunakannya? Menurut Hartini (43), zebra cross tersebut memang menarik perhatian. tapi juga awal-awal malah banyak yang pengen selfie. "Yang itu malah nantinya akan membahayakan mereka. Mungkin karena masih baru. Jadi tetap harus berhati-hati menyeberang di zebra cross baru ini," katanya.

Berikut adalah beberapa foto zebra cross berdesain unik di kota bandung karya fotografer bandung dengan akun instagram @dudisuganti




Friday, 25 November 2016

Lepas Kangen Kuliner India di Prabhu Curry Bandung


Chicken  Dum Briyani mudah disukai masyarakat Indonesia.

Perjalanan saya ke India dua tahun silam, menyisakan satu kerinduan tersendiri kepada kuliner di sana. Mungkin jika tinggal di Jakarta bukan masalah karena aneka resto India bertebaran di beberapa sudut. Tapi di Bandung? 
Untunglah kini telah dibuka Prabhu Curry House di Jalan Prabu Dimuntur 18. Lokasinya tepat di dekat jalan layang Pasopati tak jauh dari Gasibu. Cuman memang karena berada di jalan satu arah, harus benar-benar tahu letaknya, jangan sampai putar-putar nggak jelas.

Sebenarnya saya agak pikir-pikir juga mengajak keluarga ke resto kuliner India. Lantaran, khawatir isteri dan anak saya tak berselera. Akhirnya, ketika kami duduk, saya membantu isteri memilihkan menu yang aman di lidahnya, yakni Chicken Dum Briyani. Dulu, saya ingat sekali di New Delhi, teman-teman di KBRI biasanya membelikan nasi briyani ayam atau kambing yang dimasak di dalam kendi kecil. Kebanyakan menyukainya karena rasanya aman. 

  
Bentuk nasi briyani yang panjang.

Untuk anak saya, sengaja saya pilihkan roti nan dengan topping  keju, cokelat dan stroberi. Saya sendiri memilih choley bathure yang memang saya kangeni, karena dulu pernah makan kuliner ini saat melancong di Babu Market, New Delhi.

Nan dengan topping modern untuk anak-anak.

Sebagai camilan, kami memesan samosa dan pakoda (baca pakora). Untuk samosa, keluarga kami menyukainya sejak dulu. Sebab di dekat rumah dulu ada orang Pakistan yang menjual. Tapi sekarang entah mengapa ditutup.

Samosa yang begitu khas.

Satu per satu hidangan pun berdatangan. Kami menikmati samosa yang masih hangat dengan cocolan green chutney dan mayones. Sepintas, samosa bagi orang Indonesia seperti kroket. Tapi kulitnya lebih renyah. Berikutnya pakoda yang di Indonesia seperti gorengan bala-bala atau bakwan. Tapi isiannya lebih bervariasi, seperti terong atau bawang bombay.

Kami semua bisa menikmati makanan kecil tersebut. Hanya pakoda yang tersisa karena porsinya banyak. Sehingga, kami memutuskan untuk membawa pulang sebagian.

Ini dia bakwan atau bala-bala goreng khas India. namanya pakoda.

Hidangan utama kami pun kemudian datang. Isteri saya bisa menikmati nasi briyani yang panjang-panjang dengan ayam merah alias chicken tandoori yang lezat. Sementara anak saya juga bisa menikmatai roti nan dengan topping modern.

Sudah kangen choley bathure.

Saya? Oh, jangan ditanya. Roti India yang menggelembung itu saya sobek-sobek untuk membungkus chicken tandoori dan saos curry serta dal. Rasanya langsung memupus kerinduan saya kepada kuliner India. 

Selesai manandaskan makanan, kami juga membawa pulang manisan ladoo yang merupakan favorit anak saya. Dulu ketika saya pulang dari India membawa oleh-oleh ladoo cukup banyak, dan anak saya yang paling rajin menghabiskannya.

Manisan ladoo yang khas banget India.

Oh iya, di Prabhu Curry juga dijual baju-baju India yang menarik. Harganya di bawah sejuta rupiah. Selain itu juga ada aksesoris buat yang ingin tampil ala bintang Bollywood. Prabhu Curry juga menggelar kelas yoga dan acara tarian India sewaktu-waktu.

 Ada yang mencicipi kuliner India? Ajak-ajak saya. Nanti saya bantu memilihkan :)

video

Tuesday, 22 November 2016

Suap-suap Manja di Morning Glory Coffee Bandung




Akhir pekan adalah saatnya cari makan di luar. Di Bandung biasanya perlu perjuangan. Apalagi jika yang dituju adalah tempat makan favorit di tengah kota.Sebab kemacetan di hari libur akan terjadi di mana-mana.

Begitu pula akhir pekan kemarin. Perjalanannya saja untuk bisa sampai ke tengah kota bisa lebih dari satu jam. Ketimbang mengalami macet lebih parah akhirnya, saya membelokkan mobil ke Jalan Anggrek menuju Taman Cempaka alias Taman Foto Bandung. Di sana  terlihat tempat makan yang asyik bernama Morning Glory Coffee. Di tempat orang ngopi begini, biasanya suasananya justru menyenangkan. Dan benar saja!

Saya ditemani isteri dan anak masuk ke dalam sebuah ruangan yang luas semi terbuka. Seolah kami masuk ke sebuah restoran kelas menengah di Eropa. Interiornya sangat instagramable banget dan atmosfirnya cocok untuk anak muda kongkow.



Ada beraneka jenis tempat duduk. Kami memilih duduk di sofa ketimbang kayu. Agar lebih terasa di rumah. Lalu kami pun memesan. Isteri saya langsung memesan Padthai yang tak lain kwetiaw ayam. Saya meemsan tuom yam sayur dan anak saya memesan  pasta kesukaannya.


 




Tak lupa saya memesan menu tradisional tempe mendoan sebagai penebus rasa berdosa karena memesan menu masakan negeri lain. Hehehehe.  Begitu pula minumannya. Karena saya diet gula, cukup minum teh hitam. Isteri saya memesan lime dingin. Sedangkan anak saya lemon tea. Sebenarnya saya ingin sekali mencoba varian kopi di sini. Tapi karena lambung saya sedang tidak enak, saya abaikan.

Tidak terlalu lama menunggu pesanan datang. Apalagi kami sambil ngobrol akrab keluarga. Yang pertama datang adalah minuman dan teh mendoan. Cukup cerdik untuk mengganjal perut. Apalagi kami terbilang terlambat untuk makan siang lantaran terkena macet.

Tempenya lebar dan gurih. Teknik menggorengnya tepat sehingga bentuk mendoannya terasa. Bukan tempe goreng yang renyah. Tanpa kecap pun saya masih bisa menikmatinya. Walaupun saya akan lebih senang jika disediakan sambal. Ups! Ingat lambung.


Lalu pesanan saya hadir di atas meja. Aromanya langsung membuat ujung bibir saya basah. Buru-buru saya mencicipi kuahnya. Dan? Segar sekali terasa. Apalagi sayurannya juga masih terasa segar. Sayangnya udang yang disertakan bukan udang besar. Mungkin akan lebih segar lagi. Hehehe. tapi saya sudah merasa puas dengan tom yam sayuran ini. Ludes sampai tak bersisanya airnya. Hanya rawit merah yang tidak saya habiskan.


Melihat padthai pesanan isteri saya sempat tergiur. Soalnya aneh juga dengan makanan ini. Baru pertama melihat. Pikiran saya bahwa nanti akan didominasi kwe tiaw ternyata keliru. Malah togenya yang banyak. Saya pun minta encicipi kepada isteri saya. Sperti biasa, isteri saya menyuapi manja penuh kasih ke mulut saya. Rasanya ternyata enak. Mungkin bisa jadi alternatif menu kalo datang ke sini lagi.



Untuk ursan pasta, saya kurang berani mencicipi karena keju agak saya hindari. Kata anak saya rasanya enak seperti pizza. Nah lho? Mungkin karena jenis keju dan sausnya. Saya sendiri suka bagian daging cincangnya yang disertai potongan wortel. Saya pun mnta disuapi anak saya, tapi dia menolak. Jadi saya serobot sendiri. dan rasanya? Mungkin agak manis buat saya lidah saya yang jarang menyentuh gula lagi. Tapi anak-anak pasti senang dengan yang agak manis seperti ini. Kalo pastanya sih memang enak karena kejunya. 



Makan di sini agak mirip di rumah makan padang. Soalnya begitu makanan di  piring habis, langsung diangkat. Kalau kata orang dagang, silakan pesan yang lain. Jangan lama-lama ngobrol di tempat ini. Tapi mau pesan apa ya? Perut langsung kenyang karena semua makanan ternyata porsinya lumayan banyak.

Akhirnya kami  meninggalkan Morning Glory dan mampir sebentar ke Taman Foto di seberangnya untuk foto-foto manis.. Cekrek!

Monday, 21 November 2016

Digoyang Gempa di Museum Geologi Bandung

 


Saat asik-asik mencari tulang rusuk untuk teman saya yang masih jomblo di Museum Geologi, saya merasakan getaran aneh. Ketika saya tengok ternyata ada gempa. Meskipun gempa lokal. Tapi bisa membuat satu keluarga bergoyang-goyang seru seperti sebuah geolan kompak.

Itulah yang saya alami beberapa waktu lalu ketika berkunjung ke  museum yang  terletak tidak jauh dari Gedung Sate. Persisnya saya sedang berada di sebuah gedung tua yang biasanya digosipkan berhantu di sisi Jalan Diponegoro No. 57.  Yang mungkin saja banyak hantu, karena saya tidak bisa melihat. Tapi di sini banyak tulang belulang buatan untuk menguatkan koleksinya yang kebanyakan bercerita zaman prasejarah.

Takut? Jangan. Datang saja ke sini karena untuk mencapainya relatif, baik menggunakan kendaraan pribadi roda empat atau dua ataupun menaiki kendaraan umum (Bis/Angkot) yang melewati kawasan ini relatif banyak. Ada jurusan Riung Bandung-Dago, Cicaheum - Ledeng, Cicaheum, Ciwastra, dan lain-lain. Lagian sekarang bayak taksi dan ojek on-line, jadi nggak ada alasan bilang susah kendaraan.





Tapi sebelum ke sana, sebaiknya  perlu tahu juga dong jika museum ini dibangun oleh kuli bangunan orang Indonesia pada tahun 1928 masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, arsitek WNALDA VAN SCHOLTWENBURG (huruf kapital biar ingat kalau keluar saat ulangan), dan diresmikan pada tanggal  16 Mei 1929 yang bertepatan dengan Kongres Ilmu Pengetahuan se-Pasifik IV di Bandung. Selain sebagai museum, difungsikan pula sebagai labolatorium geologi sampai sekarang.

Gedung Geologi memiliki gaya arsitektur art deco (kalau nggak mengerti coba tanya sama A'a Google)  dengan kesan horisontal yang  kuat. Terdiri dari dua lantai dengan arah hadap ke selatan (Jalan Surapati). Museum ini pada awalnya sangat sederhana sehingga dapat dikatakan menyerupai ruang dokumentasi koleksi (Dan saya dulu pernah ke sini memang sedehana banget).  

Tahun 1993 telah dilakukan renovasi karena semakin banyaknya koleksi yang dikumpulkan dari hasil penelitian geologi Indonesia yang dimulai sejak tahun 1850, sehingga diperlukan tempat khusus untuk menyimpan dan memamerkan kepada masyarakat luas.  

Nah, kalau sekarang ke sana, sudah jauh berubah. Museum ini jauh lebih modern dibandingkan museum-museum lainnya di Indonesia. Pokoknya tidak berasa sedang di museum, malah kayak di pameran Internasional begitu.



Selain berisi informasi tentang isi bumi, juga ada cerita tentang kehidupan pra sejarah yang bikin kita terkagum-kagum. Deretan informasi disajikan dengan berbagai bentuk. Ada diorama, gambar, replika, sampai film. Kerenlah pokoknya menghabiskan waktu di sini.

Untuk penggemar batu akik, mungkin akan bersinar matanya melihat pelbagai jenis batuan yang menawan. Jangan coba-coba nyongkel ya. Selain karena eblum tentu batunnya asli, banyak CCTV di dalam museum.


Bahkan ada simulator gempa. Jadi pengunjung yang seumur hidupnya nggak pernah mengalami gempa, bisa dibantu lewat alat ini. Dan sepertinya pengunjung rela antre di sini. Tidak hanya anak-anak yang menyukai museum ini, orangtua pun punya kesan positif dengan Museum geologi.

Di depan simulator terpampang layar yang menggambarkan situasi gempa di ruanga. Misalnya ada barang-barang yang jatuh. Nah, biar terkesan dramatik, jangan jaim kalo ada di simulatr ini. Cobalah bergaya alay dramatik, biar saat divideo ataupun di foto akan terlihat nyata.





Berapa harga tiketnya? Hanya Rp2.000. Dulu sih gratis. Tapi kalau gratis orang cenderung mengabaikan isinya. ah, masuk toilet saja sekarang bayar. Masa masuk museum yang sarat informasi mau gratis? Untuk bule cukup bayar Rp10.000, alias masih di bawah 1 dollar AS.


Monday, 7 November 2016

Wisata Selfie di Rumah Terbalik Bandung




Sejak menjamurnya smartphone dan media narsis di Internet, penggemar selfie makin bertambah angkanya. Maka tidak heran bila para kreator wisata memikirkan tempat-tempat menarik dan unik sebagai wahana berselfie ria.


Di Bandung, wisata selfie jumlahnya tak terhitung lagi. Mulai dari yang gratisan hingga berbayar. Biasanya makin unik tempat wisata selfie, akan semakin mahal tarifnya. Kalau mau gratis, ya tinggal ke taman-taman tematik yang bertaburan. 

Salah satu obyek wisata selfie yang kini tengah digandrungi adalah studio foto rumah terbalik. Di beberapa kota seperti Yogyakarta sudah berdiri sejak lama. Di Bandung rumah terbalik belum lama berdiri yakni 10 Oktober lalu dan langsung ngehits. Namanya Upside Down World alias dunia terbalik.


Kemarin saya berkunjung bersama keluarga ke rumah terbalik ini yang berlokasi di Jalan H Wasid Bandung. Rupanya studio ini berada di bekas tempat sebuah kafe yang dulu jadi favorit saya. Entah kemana sekarang kafe itu. Oh iya, di sana parkirnya tidak luas, tapi tamu bisa kok parkir mobil di pinggir jalan dan relatif aman karena ada petugas parkir.

Untuk berselfie ria, kita dikenakan biaya masuk sebesar Rp100.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Saya tidak tahu apakah itu berlaku setiap hari, atau khusus hari Minggu ketika saya berkunjung. Begitu masuk kita harus membuka alas kaki. Dan sebaiknya memang lepas juga kaos kaki agar lebih leluasa saat difoto.

Setidaknya terdapat 10 ruangan untuk berfoto sambil bergaya di Upside Down World ini, dan semuanya adalah ruangan yang ada di dalam rumah. Mulai dari ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur anak, dapur, ruang keluarga, ruang santai, dan sebagainya.

 

Pengunjung yang datang boleh memotret di semua ruangan sampai sepuasnya. Tentu saja di jam-jam padat pengunung harus sabar mengantre. Bawalah smartphone untuk bisa langsung posting di Instagram, karena nanti pengunjung boleh mencetak gratis fotonya di booth khusus. Jika ingin menghasilkan kualitas gambar yang bagus, silakan membawa kamera DSLR milik pribadi.

Pengunjung yang ingin berfoto tidak perlu khawatir jika tidak tahu sudut pengambilan terbaik. Para staf di sini dengan suka hati akan membantu mengatur posisi model maupun pengambilan foto yang terbaik. bahkan mereka siap memotret pengunjung. Di setiap ruangan juga terdapat contoh foto yang bisa ditiru, jika kebetulan ingin difoto sendiri.

Selain puas memotret, di tempat ini juga tersedia gerai penjualan makanan dan minuman ringan serta merchandise seru. Jangan khawatir juga kalau mau ke toilet. Tenang yang ini asli, nggak terbalik. hehehe.

Saran saya, sebaiknya jika berniat ke tempat ini, cobalah membawa tiga baju ganti agar saat difoto jadi memiliki suasana yang berbeda. Misalnya, baju santai, piyama (baju tidur), dan pakaian di dapur. Dan jangan takut berekspresi alay sekalipun di tempat wisata ini. Masa sih udah bayar mahal-mahal, setiap difoto pasang muka datar?

Lokasi Rumah Terbalik Bandung



Bagi yang masih bingung menuju ke Upside down World, maka yang terbaik adalah dari arah jalan Dipatiukur menuju Jalan Bagusrangin. Nanti di sisi kanan akan menemukan Jalan Haji Wasid. Patokannya yang mudah adalah di belakang gerai Rabani Dipati Ukur.

Untuk yang masuk dari jalan layang Pasopati, bisa berbelok ke kiri menuju Jalan Panatayuda. Nanti di samping SMA PGII berbelok ke kanan menuju Jalan Haji Wasid.

Kalau mau naik kendaraan umum, bisa mengunakan angkot yang melewati Jalan Dipatiukur seperti Ciacaheum-Ciroyom, Riung Bandung-Dago, atau Dipatiukur - Panghegar.

Selamat bernarsis ria di rumah terbalik.