Monday, 26 September 2016

Sensasi Jembatan Goyang di Green Forest Lembang



Jembatan goyang biasanya kita temukan di daerah pedalaman. Kali ini, kita bisa menemukannya di sebuah resort cantik bernama Green Forest di lembang, Jawa Barat. Tepatnya di Jalan Sersan Bajuri No.102. Banyak jalan alternatif ke tempat ini. Tapi patokan yang mudah adalah setelah melewati Universitas pendidikan Indonesia (UPI) di jalan Setiabudi, tinggal belok ke kiri dan terus ikuti jalan sampai menemukan papan nama di sisi kanan.

Suasana asri dengan pepohonan rindang akan menyapa pengunjung begitu masuk ke halaman parkir yang luas. Sesuai namanya yang berarti Hutan Hijau, resort ini memang menawarkan warna hijau pepohonan di mana-mana. 

Usai melewati bangunan tempat untuk check-in sekaligus ruang lobi, pengunjung akan menemukan pemandangan indah. Mulai dari bangunan besar bersisi kamar-kamar penginapan, lounge, lalu kolam renang, kapel kecil, hingga meeting room yang menyebar di segala penjuru.

Saya kali ini mendapat kamar 210. Saya pikir kamarnya terlihat langsung begitu keluar dari pondok resepsionis, ternyata saya harus melewati kolam renang dan turun lift ke lantai satu. Jadi daratan saya berjalan tadi merupakan lantai tiga.

Keluar dari lift, saya harus melewati gang sempit. Agak repot juga karena saya membawa ransel besar dan terpaksa saya angkat karena tidak bisa diseret saat melalui anak tangga. Setelah melewati lorong yang gelap dengan sisi batu tebing, akhirnya saya masuk kamar.


Teman sekamar saya sudah masuk lebih dulu. Jadi saya tidak bisa memilih ranjang  di sisi mana yang saya inginkan. Pastinya saya tidak kebagian lemari. Jadi tas ransel berisi pakaian, tas berisi laptop terpaksa diletakkan begitu saja di sisi ranjang. Pakaian saya pun ditumpuk-tumpuk begitu saja. Buat saya kamarnya terlalu sempit untuk berdua. Biasanya saya memilih kamar hotel seukuran ini untuk sendirian. Tapi namanya diundang jadi peserta workshop, saya nggak bisa memilih, kan?

Saya mendapat tempat di sisi jendela sedikit kurang menguntungkan karena terminal akses listrik alias colokan semua ada di sisi kanan. Buat orang seperti saya yang harus ngecharge batere dan laptop agak sedikit ribeut.  

Jembatan Goyang Jadi Favorit 

Beruntunglah jadwal acara workshop sangat padat. Jadi saya tidak begitu mempermasalahkan kamar. Kamar hanya untuk tidur dan mandi. Menyalakan televisi pun tak sampat. Kalau pun butuh hiburan di kamar, saya tinggal buka ponsel dan meaktifkan wifi hotel yang terbilang nendang.


Di luar kamar, saya menyukai beberapa fasilitas seperti kolam renang yang memiliki view cantik. Meskipun kolam renangnya nggak bisa dipakai maksimal karena dalamnya hanya 110 cm. Jadi buat berendam-rendam manja dan selfie saja cocoknya. Jangan berpikir untuk terjun dari sisi kolam renang. Untuk berenang saja kaki saya selalu menyentuk lantai kolam.



Kapel kecil yang disediakan untuk acara pernikahan menurut saya juga cantik. Saya melihat sendiri keseruan pernikahan di kapel itu karena saat hari kedua, ada sepasang pengantin yang menghelat acara di kapel itu. sayang saya nggak bisa mengikutinya karena harus mengikuti agenda workshop. Tapi ide keren sekali mendirikan kapel di resort karena pasti banyak yang tertarik menyewanya.


Resto Kampung Awi juga merupakan salah satu favorit saya. Saat makan pagi biasanya selalu saya sempatkan ke sini. Walau hanya untuk menikmati omelet karena saya sedang diet. Saya suka interior dan eksteriornya yang didominasi bambu. Ya, karena 'kampung awi' artinya kan 'kampung bambu'. Untuk masakannya sih saya lihat lumayan lah. Ciri khas Sunda tetap diangkat.


Kampung Awi juga meneydiakan tempat makan di bawah gazebo, hingga lesehan di sisi tebing. Cuman agak seram kali ya kalo buat makan malam. Mungkin cocoknya saat makan siang karena bisa menikmati pemdangan di sekitar tebing. Terdapat juga spot air terjun buatan untuk selfie dan taman bermain anak. Iya, aksihan kan anak-anak kalo di ajak ke tempat yang lumayan jauh dari kota, tapi nggak diberi kesempatan bermain.

Dan ... yang menjadi favorit saya adalah jembatan goyang. Hm, entah goyang ngebor atau ngecor, tapi saya penasaran.


 Untuk mencapai jembatan goyang ini, harus berjalan menuju ke resto, lalu menuruni jalan setapak. Hati-hati saat hujan karena tidak ada pegangan di sisi jalan setapak. Kemudian kita bisa melihat hembatan berwarna hijau dengan rerumpunan bambu di sekelilingnya. Sedikit tersamar memang. Nah, cobalah berjalan di sana sambil setengah berlari. Maka akan terasa goyangnya. Kalau pelan-pelan sih nggak bakal terasa.

Yang doyan selfie aneh silakan bergaya sesukanya. saya sih cukup melalui jembatan sepanjuang kurang dari 100 meter itu lalu balik lagi. Pasalnya abis hujan, jadi licin. Dan masih sepi banget karena saya ke sana belum pukul enam pagi.



Jujur saja karena berada di ruang workshop, jadi nggak sempat eksplore lebih jauh resort ini. Pastinya, saya ketinggalan baju saya, celana renang dan CD, yang dijemur di balkon. Saya pulang Rabu pagi. Malamnya saya telepon katanya akan dikabari. saya sudah kasih nomor telepon. Tapi sudah lima hari ini belum ada kabarnya.


Yang mau lihat Vlog saya ini dia ...


Wednesday, 21 September 2016

Lezatnya Surabi Cihapit Bandung


Surabi atau serabi merupakan kuliner khas Jawa barat yang terkenal sejak jaman kolonial. Saking terkenalnya, surabi pun dibuat aneka macam rasa. Tapi tetap saja orang menginginkan surabi dengan rasa klasik yakni, surabi polos yang dicelupkan ke kinca (gula merah encer) dan surabi dengan topping bubuk oncom.

Di Bandung, banyak tempat penjual surabi yang sangat terkenal. Sebut saja Surabi Enhai, yang boleh disebut sebagai pioner pembuat surabi modern. Di sebut Enhai karena berada di dekat kampus NHI (Nastional Hotel Institute) di Jalan Setiabudi. Sedangkan surabi klasik biasanya masih bisa ditemui tak jauh dari pasar tradisional.



Salah satu yang yang cukup terkenal adalah Surabi Cihapit yang berasa di dekat Pasar Cihapit. Saya mendatangi kedai surabi ini karena populeritas surabi oncomnya. Maka tanpa ragu-ragu saya pun memesannya.



Saat menunggu saya melihat beberapa pembeli sengaja makan di tempat. Bagi beebrapa orang, makan di tempat memang lebih asyik karena surabinya masih hangat. Tapi saya memutuskan untuk membungkusnya.

Di kedai ini kita bisa melihat cara membuat surabi dimulai dengan menuangkan adukan tepung ke cetakan, pemberian topping, hingga mengangkatnya. Ada yang unik dengan kedai surabi ini. Ternyata pemiliknya bukan urang Sunda, melainkan berasal dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Namanya Ibrahim, biasa dipanggila Abang.  Ibrahim menikah dengan mujang Garut hingga akhirnya dia menemukan resep surabi dengan rasa klasik.

Tak terasa pesanan saya telah selesai. Karena tidak tahan, saya akhirnya makan begitu sampai di mobil. Wow, surabi oncomnya memang bikin nagih. Rasanya pedas-pedas menantang. Patut dicoba.




Nah, buat yang ingin ke sini, kalau dengan kendaraan pribadi atau taksi cukup minta di antar ke Pasar Cihapit di Jalan Cihapit, Bandung. Jika naik angkot bisa naik kendaraan Ledeng-Margahayu lalu turun di Jalan Cihapit. Yang pasti jalan ini cukup terkenal di bandung.

Wednesday, 7 September 2016

Berburu Tahu yang Bikin Ketagihan di Lembang




Yuk, berburu tahu di Lembang

Saat berada di luar kota Bandung, banyak orang memuji kelezatan tahu asal Bandung. Namun sebagai warga Bandung, saya menganggap tahu yang enak justru berasal dari Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Bukan cuman lezat, tapi juga bikin ketagihan memakannya.

Itu sebabnya setiap hari saya berlangganan tahu asal Lembang. Bahkan di akhir pekan saya beranjak ke lembang, sekadar berburu tahu-tahu enak. Setidaknya ada dua tempat tahu terkenal di Lembang, yakni Tahu Tauhid dan Tahu Susu Lembang.

Tahu mentah di Tahu tauhid

Tahu Tauhid

Tahu Tauhid paling populer di Lembang. Pusatnya berada di Jalan Cijeruk, masuk dari Pasar lembang. Tapi karena akses ke sana sering kali macet parah, dibukalah Tahu tauhid 2 di Jalan Maribaya dekat De Ranch atau dikenal juga dengan Jalan Seskoau. Tapi tetap saja macet, sampai ke pinggir jalan.

Kedai Tahu Tauhid 2
Untuk menghindari macet, biasanya saya datang pagi hari. Lepas makan siang hingga sore hari bisa dipastikan tempat parkirnya padat. Sebab, banyak pelancong yang sengaja mampir ke kedai ini usai jalan-jalan. Mereka sengaja mampir membeli tahu untuk oleh-oleh.

Saya lebih suka ke kedai Tahu Tauhid 2 karena ruas jalannya lebih luas.Untuk memilih dan memesan tahu bisa langsung melihat dari daftar harga.

Nah, kedai yang menyediakan tahu mentah untuk dibawa pulang  ada di sisi kiri. Sebaiknya sudah ada bayangan yang akan dibeli. sebab jangan sampai berpikir untuk tanya-tanya lebih dulu karena kadang pelayannya kurang ramah dalam menjelaskan jenis tahunya. Apalagi saat ramai.

Tahu mentah bisa bertahan selama sepekan asal berada di dalam kulkas. Jadi kalau tujuannya ke Jakarta ya aman-aman saja.

Sementara itu kedai di sisi kanan adalah untuk pemesanan oleh-oleh lainnya khas Lembang dan minuman . Di sini pula kita bisa meemsan tahu tauhid goreng yang sepintas mirip tahu sumedang. Tapi sungguh beda banget rasanya. Tahunya padat dan isinya lembut. Paling enak pakai sambel kecap. tapi saya sih pakai cengek alias cabe rawit sudah bisa menikmati banget yang namanya tahu goreng Tahu Tauhid.





Untuk teman minum paling asyik meman dengan deh hangat, tapi di sini pilihannya bisa dengan susu murni atau yoghurt maupun minuman ringan lainnya. yang penting makan tahu gorengnya harus pas hangat, biar lebih terasa nendang di lidah.

Tahu Susu Lembang

Tahu Susu Lembang adalah salah satu favorit saya di lembang karena tempat parkirnya luas dan makanannya enak-enak. Di sini juga ada rumah sosis yang menyediakan anek varian sosis yang biasanya disukai anak-anak. Letaknya berada di jalan raya lembang 177, dari arah Bandung berada di sisi kiri jalan.

Di Tahu Susu Lembang ini juga tersedia jenis tahu mentah dan sudah digoreng. bahkan lebih keren lagi, di sini kita bisa melihat dari dekat pembuatan tahu yang higienis. Berbeda dengan tahu tauhid2 , yang dilarang untuk masuk ke ruangan pembuatan tahu. Jadi di sini kita bisa mengajak anak-anak mengenalkan pembuatan tahu. bagu untuk pengetahuan mereka.

Nama tahu susu sendiri disebabkan karena tahunya memang dicampur dengan susu murni. Perbandingannya tigabelas kilogram kedelai dicampur empat liter. Selain tahu susu ada juga tahu mentega yang dicampur mentega, bukan susu.

Harga tahu susu satu bungkus adalah Rp25.000 sementara tahu mentega Rp30.000 per bngkus. Karena Lembang pusatnya susu murni, jadi jelas dan tidak sulit mencari bahan bakunya.






Banyak orang yang menyukai tahu susu goreng. Satu porsi hanya Rp15.000. Sebenarnya, asal tahu saj anih, tahu susu lebih enak dikonsumsi tanpa digoreng yakni dikukus. Rasanya akan membuat lidah ketagihan. Lagipula makanan dikukus jauh lebih sehat ketimbang yang digoreng-goreng, kan?

Di kedaia Tahu Susu lembang juga banyak kedai kuliner lainnya, sepetri mie ayam mapuan batagor, bahkan makanan berat untuk makan siang maupun malam. Jadi, pastinya betah  berlama-lama di sini. Apalagi ada arena ATV dan wahana bermain untuk anak-anak. Tapi jika tidak punya waktu banyak, di sini juga disediakan layanan drive thru lho. Seru kan, beli tahu pakai mobil tanpa turun dari kendaraan.


Tuesday, 6 September 2016

Menginap Tiga Malam di Gumilang Regency Hotel


  

   

Akhir Agustus lalu saya  menginap tiga malam di gumilang Regency Hotel yang terletak di Jl. Setiabudi Bandung. Dari terminal Ledeng tinggal lurus ke arah Lembang. Setelah kantor polisi Cidadap, maka akan menemukan hotel ini di sisi sebelah kiri.

Jangan lupa ambil tiket parkir ya kalau membawa kendaraan sendiri, dan agak ribeut karena pas ditanjakan. Tapi jika beruntung akan ada petugas yang membantu mengambilkan tiket parkir. Oh iya, ada hal agak kaget soal tiket parkir ini. Pagi hari setelah menginap saya keluar dan minta cap dari resepsionis. iasanya kalau sudah begitu saya dapat parkir bebas, tapi pagi itu say tetap kena charge sebesar Rp3.000. Hmm, saya bayar saja sih. Dan hari kedua hingga terakhir saya keluar dari hotel tidak ditagih lagi. Aneh, kan?

Saya kemudian parkir ke bagian belakang hotel karena di depan penuh. Hotel ini sepertinya sangat ramai oleh penyelenggaraan pelatihan. Dari bagian belakang saya ke resepsionis mengambil kunci. Dan ternyata cuman dapat satu kunci magnetik untuk berdua. Lah, kami kan bukan sepasang suami isteri yang ke mana-mana pergi berdua. Kami lagi bikin acara yang tentu kesibukannya berbeda-beda.Setelah didesak, akhirnya saya bisa mendapat dua kunci. Syaratnya, saya harus menyimpan deposit sebesar Rp50.000. Ya, biarlah ketimbang cari-carian nggak jelas demi keluar masuk kamar.

Saya menyeret koper berisi pakaian dan laptop menuju kamar. Nggak kebayang sama sekali saat membuka pintu kamar hotel saya akan berhadapan dengan.... tangga!




Saya pikir tadinya mau langsung ketemu ranjang. Eh malah tangga. Ya sudahlah, mau nggak mau harus menjinjing koper ke atas sambil ngos-ngosan. Barulah kemudian saya bisa melihat kamarnya, Jreng-jreng ...




 

Ruangan kamarnya sih oke-oke saja untuk hotel bintang tiga. Bergaya lama dengan dominasi kayu berwarna cokelat di bagian furniutre. Tersedia lemari, tv, AC, dan fasilitas standar lainnya. Ukuran ranjangnya masih terbilang nyaman. Nggak sekecil ranjang di hotel-hotel minimalis modern yang sempat saya inapi.




Saya kemudian membuak kamar mandi. Closet duduknya jelas bukan jenis yang saya sukai. Entah mengapa saya tidak suka model seperti ini. Sementara showernya ada tube transparan yang buat saya terbilang pas-pasan. Yang agak bingung adalah perlatan heather yang agak membingungkan karena model lama. Jadi saya harus mempelajari benar sebelum saya mandi diguyur air panas membara.


Dari kamar saya bisa melihat pemandangan kolam di bawah. Saat para tamu berenang bisa jadi pemandangan juga. Cuman yang menjengkelkan saat ada tamu berenang dan gejebar-gejebur di pagi buta. Saya sempat mengira ada tamu hotel yang sleep walker lalu terjebur ke kolam.

Sore hari saya sempatkan meninjau fasilitas. Oke, karena saya harus jogging setiap hari saya lihat jogging track d hotel. Wah luamayan lah walaupun tidak luas. Tapi lebih baik ketimbang lari di sisi jalan yang tidak aman.




 

Lalu saya ke ruang ngegym yang mungil. Dan ternyata saya kurang beruntung. Dua treadmill yang berdiri di sana tidak berfungsi sejak dua minggu lalu. Halagh, mengapa nggak segera dibenerin ya?


Yang menarik di hotel ini ada fasilitas taman bermain untuk anak-anak. Mungkin memang hotel ini juga sering dipakai untuk liburan keluarga. Maklum, jaraknya sangat dekat menuju ke ratsuan obyek wisata di Lembang.








Resto di hotel ini juga termasuk menarik sajian maknannya. Tidak terlalu berlimpah tapi menunya lucu-lucu. salah satu favorit saya adalah masakan terong kari, dan beberapa jenis olahan ikan. Sayangnya di sini hanya disediakan roti putih, tak ada roti gandum yang saya perlukan karena saya tidak makan nasi.











atu hal yang seru pada hari Rabu, karena terkait program pemerintah Rebo Nyunda, kita bisa menyaksikan pertunjukan kecapi suling yang merdu. Tadinya saya mendengar dari kamar seperti bunyi musik rekaman, ternyata pertunjukan live.



Secara keseluruhan saya merasa nyaman dengan suasana hotel satu ini. Tidur pun bisa nyenyak di malam hari. Udaranya juga sejuk, dan jika membawa keluarga juga cukup aman.











Semoga bisa mampir lagi ke hotel ini.

Narsis Cantik di Kebun Begonia, Lembang




Lembang, Jawa Barat, memiliki ratusan tempat untuk dikunjungi. Mulai dari yang sudah lama berdiri sampai yang baru. Salah satu yang terbilang baru adalah Kebun Begonia di Jalan Maribaya no. 120A. Lokasinya tak terlalu sulit dicari karena berada di pinggir jalan dari Lembang ke arah Maribaya.



Saat tiba di halaman parkir, ternyata sudah lumayan penuh kendaraan yang nangkring. Untunglah saya masih dapat tempat. Padahal ini masih pagi sekitar pukul sembilan. Tapi memang kalau ingin ke sini sebaiknya pagi, selain karena rebutan tempat parkir, sinar mataharinya juga amsih adem menyentuh kulit. Maklum, obyek wisata ini di ruang terbuka.


Saya membayar karcis masuk dan rada terkejut juga sih begitu dtagih uang Rp50.000 karena saya membawa kamera SLR. Duh, padahal saya ini blogger. Saya pengin nulis tentang Kebun Begonia. Udah mau bayar tiket masuk aja harusnya bersyukur, karena nanti saya tulis gratis di blog saya. 


  



Saya malas ribut sama penjaga tiket juga. Jadi saya titipkan tas kamera di loket. Setelah itu masuk ke dalam Kebun Begonia yang luasnya kira-kira selapangan bola. Dinamakan Kebun Begonia, karena memang didominasi tanaman begonia. Tentu saja tanaman lainnya juga bisa ditemukan, seperti Bunga Celosia, Melampodium, Bunga Impatiens, Bunga Salvia, dan Bunga Geranium. Terlihat aneka warna, tapi kurang tercium wangi bunga-bungaan.





Di dalam kebun banyak sekali disediakan spot untuk foto narsis. Dari pinggi pagar, para pedagang tongsis pun berteriak menawarkan barang dagangannya. Memang kurang lengkap kalau nggak foto-fotoan membawa tongsis ke sini. Apalagi yang pengen selfie tanpa harus meminta temannya memotret.

Karena yang boleh masuk hanya kamera HP, jadi harus pintar-pintar mengambil foto. Resolusi pun diatur agar tidak terlalu kecil. Dan harus perhatikan pula arah datangnya sinar matahrai.


Jika dalam rombongan tersedia pemandu yang akan menjelaskan tentang tanaman. Kalau nggak mau juga nggak apa-apa. Nggak penting-penting amat kalo cuman sekadar mau narsis cantik. Kenapa cantik? Soalnya saat saya datang, mayoritas pengunjung yang terus menerus foto-foto ya kaum hawa. Dari yang usia muda sampai nenek-nenek. Sedangkan para pria, kalau tidak dipaksa isteri atau pasnagan untuk narsis bareng, mereka ya duduk mengaso. Mungkin mereka mikir juga, ya jauh-jauh ke kebun bunga cuman mau foto-fotoan gitu aja.


Buat saya yang pernah melihat taman-taman bunga cantik di Eropa, sebenarnya Kebun Begonia nggak istimewa-istimewa amat. Tapi buat penggila foto narsis, pastilah beda pendapat dengan saya. Isteri dan anak saya pun berpendapat demikian. Cukup cekrak-cekrek beberapa foto.


Saya sendiri cuman bisa bertahan setengah jam di dalam. Selain beberapa spot menarik 'dikuasai'rombongan emak-emak narsis, matahari punmulai meninggi. Saya akhirnya memutuskan untuk ke kedai penjualan tanaman di sisi lain. Akhirnya saya membeli satu pot sedang berisi begonia merah seharga Rp75.000.

Bagi pengunjung yang mau makan dan shalat, di lokasi juga tersedia mushola dan resto dengan menu masakan yang beragam. Tentu saja didominasi masakan sunda. Tapi saya memilih makan di tempat lain.

Oh iya, buat yang mau ke Kebun Begonia, bisa saja dengan kendaraan sendiri. Jalurnya mudah kok. Kalau mau naik kendaraan umum, silakan dari terminal Ledeng bandung naik angkot ke Lembang, kemudian dilanjutkan angkot ke Curug Maribaya.

Dan ... tuh kan kelupaan. Tas kamera saya hampir saja tertinggal. begini nih kalo ada tempat penitipan barang di dekat pintu masuk, tapi pintu keluarnya jauh dari loket.   ^_^